Jenis Kewirausahaan

Semua yang perlu Anda ketahui tentang jenis wirausaha.

Menurut Peter Drucker, 'Kewirausahaan didefinisikan sebagai' inovasi yang sistematis, yang terdiri dari pencarian perubahan yang terarah dan terorganisir dan merupakan analisis sistematis dari peluang yang mungkin ditawarkan oleh perubahan tersebut untuk inovasi ekonomi dan sosial. '

Kewirausahaan adalah suatu proses. Ini bukan kombinasi dari beberapa insiden menyimpang. Ini adalah pencarian perubahan yang bertujuan dan terorganisir, yang dilakukan setelah analisis sistematis peluang di lingkungan.

Kewirausahaan adalah filosofi - itu adalah cara orang berpikir, seseorang bertindak dan karena itu dapat ada dalam situasi apa pun baik itu bisnis atau pemerintah atau di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi atau pengentasan kemiskinan atau yang lainnya.

Beberapa jenis wirausaha adalah: -

1. Intrapreneurship 2. Technopreneurship 3. Entrepreneurship Budaya 4. Entrepreneurship Internasional 5. Ecopreneurship

6. Kewirausahaan Sosial 7. Kewirausahaan di Sektor Pertanian / Agripreneurship 8. Transpreneurship 9. Kewirausahaan Komersial 10. Netpreneurship (E-Entrepreneurship / Cyberpreneurship).


Jenis Kewirausahaan: Intrapreneurship, Technopreneurship, Ecopreneurship, Agripreneurship dan Beberapa Lainnya

Jenis-Jenis Kewirausahaan - Kewirausahaan, Technopreneurship, Kewirausahaan Budaya, Kewirausahaan Internasional, Ecopreneurship dan Beberapa Lainnya

1. Intrapreneurship:

Istilah "wirausaha intra-perusahaan" diperkenalkan oleh Gifford Pinchot pada tahun 1973. Kemudian direvisi menjadi "intrapreneur". Istilah "intrapreneur" secara resmi diakui pada tahun 1992 dengan definisi yang diberikan dalam Kamus Warisan Amerika. Dengan demikian, intrapreneur adalah "seseorang dalam perusahaan besar yang mengambil tanggung jawab langsung untuk mengubah ide menjadi produk jadi yang menguntungkan melalui pengambilan risiko dan inovasi yang tegas."

Karyawan dari sebuah organisasi yang termotivasi untuk menggunakan bakat kewirausahaan dan inisiatif mereka untuk melakukan sesuatu sendiri, tetapi yang mungkin tidak ingin memulai bisnis mereka sendiri dikenal sebagai intrapreneur. Intrapreneurship, dengan demikian, berarti pembentukan dan pembinaan aktivitas kewirausahaan di organisasi besar baik dengan meningkatkan produk yang ada atau dengan merek produk baru. Intrapreneur dengan inovasi dan upaya khusus mereka dianggap aset berharga oleh organisasi.

Elemen penting:

Empat elemen penting untuk keberhasilan intrapreneurship:

saya. Harus ada lingkungan struktural dan strategis yang tepat dalam organisasi. Karyawan harus memiliki atmosfer kebebasan untuk berinteraksi satu sama lain dan berbagi ide, dan mempromosikan semangat inovasi mereka.

ii. Tenaga kerja yang cocok dari orang-orang yang giat harus dibangun. Bakat karyawan harus diakui, keterampilan mereka harus dilatih, dan mereka harus termotivasi.

aku aku aku. Karyawan harus didorong untuk berkolaborasi dan berjejaring secara alami, karena setiap karyawan tertarik pada masa depan organisasi yang cerah.

iv. Karyawan yang sukses harus diberi penghargaan yang sesuai, sementara mereka tidak harus dihukum karena kesalahan mereka. Jika ada budaya kerja berbagi dan kepercayaan, itu akan mendorong karyawan untuk inisiatif lebih lanjut.

Intrapreneurship lebih penting dalam dunia yang berubah dengan cepat saat ini daripada sebelumnya. Organisasi semakin melihat ke arah intrapreneur mereka untuk menciptakan bisnis baru di pasar baru.

2. Technopreneurship :

'Technopreneurship' adalah kombinasi dari dua kata 'teknologi' dan 'kewirausahaan'. Technopreneurship adalah kewirausahaan dalam konteks intensif teknologi. Ini adalah proses menggabungkan bakat dan keterampilan teknologi dan kewirausahaan. Dalam transformasi barang dan jasa, teknologi digunakan sebagai bagian integral dalam technopreneurship.

Technopreneurship adalah generasi baru kewirausahaan. Ini melibatkan berkumpulnya orang-orang yang cerdas, kreatif, cerdas teknologi dan bersemangat serta memiliki minat terhadap risiko yang diperhitungkan. Tidak seperti kewirausahaan, keberhasilan technopreneurship tergantung pada kerja tim.

Makna dan Definisi :

Technopreneurship bukanlah produk tetapi proses sintesis dalam rekayasa masa depan seseorang, organisasi, bangsa dan dunia. Dalam masyarakat digital, berbasis pengetahuan, proses pengambilan keputusan membutuhkan program pengembangan profesional dan pelatihan. Mereka akan menghasilkan pemikir strategis yang memiliki keterampilan untuk berhasil dalam lingkungan global yang berubah secara dinamis.

Keterampilan teknologi dan kewirausahaan memimpin banyak ekonomi menuju kemakmuran. Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apple), Sergey Brin dan Larry Page (Google), Mark Zuckerberg (Facebook), Jack Dorsey (Twitter), Kevin Systrom (Instagram) adalah contoh terkenal teknopreneur.

Technopreneur :

“Seorang teknopreneur adalah wirausahawan yang paham teknologi, kreatif, inovatif dan dinamis, berani tampil beda dan menempuh jalan yang belum dijelajahi, dan sangat bersemangat dengan pekerjaannya”. Dia mengambil tantangan dan berusaha untuk menjalani hidupnya dengan sukses. Dia tidak takut akan kegagalan dan karenanya menganggap kegagalan sebagai pengalaman belajar, stimulator untuk melihat sesuatu secara berbeda.

Seorang Technopreneur mengalami proses organik perbaikan berkelanjutan dan mencoba mendefinisikan kembali ekonomi digital yang dinamis. Technopreneur memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan produk-produk inovatif melalui proses komersialisasi. Teknopreneur potensial dilengkapi dengan keterampilan teknis dan bisnis.

Signifikansi Technopreneurship :

Dalam situasi global yang berubah secara dinamis, technopreneurship memainkan peran penting karena fitur-fitur berikut:

saya. Ini menghasilkan pekerjaan

ii. Itu membuat penggunaan sumber daya lokal terbaik

aku aku aku. Ini mendesentralisasi dan mendiversifikasi bisnis

iv. Ini mempromosikan teknologi

v. Ini membentuk modal

vi. Ini mempromosikan budaya kewirausahaan.

3 . Kewirausahaan Budaya :

"Pengusaha budaya adalah agen perubahan budaya dan visioner yang mengatur modal budaya, keuangan, sosial dan manusia, untuk menghasilkan pendapatan dari kegiatan budaya".

Pengusaha budaya menciptakan, memproduksi dan memasarkan barang dan jasa budaya, menghasilkan peluang ekonomi, budaya dan sosial bagi para pencipta sambil menambahkan nilai budaya bagi konsumen. Perusahaan budaya beragam dalam sifat dan ukurannya. Mulai dari usaha mikro, kecil dan menengah hingga perusahaan besar.

Perusahaan budaya beroperasi dalam profesi tradisional seniman, penulis, musisi, aktor, penari, pengiklan, arsitek, serta profesi pengembang permainan, produser TV / musik, blogger dan desainer grafis yang lebih baru.

Pengusaha budaya memiliki tujuan meningkatkan bisnis untuk kemajuan masyarakat. Mereka menciptakan dan berbagi produk budaya seperti seni visual, musik dan film, cerita, dan permainan yang menghadirkan cara baru untuk memahami masalah sosial. Pengusaha budaya yang sering mengandalkan alat media baru seperti twitter dan kickstarter memanfaatkan komunikasi persuasif dan pengaruh teman sebaya untuk mengubah ide, sikap, kepercayaan, dan perilaku. Dengan demikian mereka berusaha mengubah dunia menjadi lebih baik.

Kewirausahaan budaya adalah kegiatan ekonomi dan sosial budaya berdasarkan inovasi, eksploitasi peluang dan perilaku pengambilan risiko. Ini adalah kegiatan sosial yang inovatif, strategis dan visioner. Pengusaha budaya menyebabkan pembangunan sosial melalui keterlibatan masyarakat dan seni memposisikan sebagai pintu gerbang menuju transformasi.

Selain inisiasi, interpretasi, atau penerapan, sifat eksploitasi konten budaya dengan mengubah ide menjadi barang dan jasa yang dapat dipasarkan yang unggul dalam wirausahawan budaya yang sukses. Pengusaha budaya berusaha untuk mempromosikan pelestarian budaya sambil menjadi inovatif. Mereka bertujuan memperkuat dan membuat dunia tumbuh melalui penentuan nasib sendiri dan kemandirian. Dengan demikian, mereka membawa nilai pada ekonomi kreatif.

4. Kewirausahaan Internasional:

Kewirausahaan internasional adalah proses seorang wirausahawan yang melakukan kegiatan bisnis melintasi batas negara. Ini termasuk mengekspor, melisensikan atau membuka kantor penjualan di negara lain. Tujuan utama kewirausahaan internasional adalah untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar sasaran.

Kewirausahaan internasional didefinisikan sebagai “pengembangan usaha baru internasional atau startup yang sejak awal terlibat dalam bisnis internasional, sehingga memandang domain operasi mereka sebagai internasional dari tahap awal operasi internasional”.

Kewirausahaan internasional bermanfaat ketika penjualan produk suatu perusahaan di pasar domestik, menurun dan permintaan akan produk dari pasar internasional meningkat. Pengusaha dapat menjual produknya itu telah mencapai tahap jatuh tempo dari siklus hidup mereka di pasar domestik, di pasar luar negeri dan mendapatkan keuntungan dengan penjualan mereka.

Pengusaha dalam proses memuaskan pelanggan asing harus menghasilkan produk sesuai harapan kualitas mereka. Ia tidak hanya akan menghasilkan produk berkualitas di pasar internasional, tetapi juga di pasar nasional. Dengan demikian, ia dapat meningkatkan daya saing kewirausahaan dan meningkatkan reputasi.

Pentingnya Kewirausahaan Internasional :

saya Biaya Produksi yang lebih rendah :

Kewirausahaan internasional dapat membantu mengeluarkan produk dengan biaya lebih rendah. Jika biaya produksi suatu produk tinggi di negara asal, produk yang sama dapat diproduksi di negara lain dengan biaya lebih rendah. Dengan demikian, produk dapat tersedia dengan harga lebih murah di pasar internasional.

ii . Peningkatan Penjualan dan Keuntungan :

Kewirausahaan internasional membantu meningkatkan penjualan dan laba. Ketika permintaan untuk produk seorang pengusaha menurun di pasar lokal, ia dapat menjual produknya di pasar internasional di mana siklus hidup produk berada dalam kondisi yang menguntungkan. Dengan demikian, ia dapat memperoleh lebih banyak keuntungan.

iii . Menumbuhkan Kebiasaan Manajemen Hubungan Pelanggan (CRM) :

Internasionalisasi bisnis akan mengajarkan pengusaha bagaimana menumbuhkan kebiasaan manajemen hubungan pelanggan. Dalam proses memuaskan pelanggan asing, pengusaha harus menghasilkan produk sesuai dengan harapan kualitas mereka di pasar nasional dan internasional.

iv . Pemanfaatan Bakat dan Kompetensi Manajerial :

Ketika bisnis tidak bisa mendapatkan tenaga kerja berbakat yang dibutuhkan di negara, mereka bisa mendapatkan aktivitas outsourcing ke negara asing, atau dapat mempekerjakan karyawan dan memanfaatkan kompetensi manajerial dari sana.

v . Peluang untuk Pertumbuhan :

Bisnis internasional adalah salah satu platform utama untuk ekspansi dan diversifikasi bisnis apa pun. Pengusaha sukses selalu tertarik dalam ekspansi dan diversifikasi kegiatan bisnis mereka. Mereka mendapatkan banyak peluang untuk pertumbuhan dalam bisnis internasional.

vi . Keuntungan dari Tenaga Kerja Murah :

Untuk setiap bisnis, kuantitas dan kualitas tenaga kerja adalah tantangan utama. Jika tenaga kerja murah di negara asing, perusahaan dapat melakukan outsourcing aktivitasnya ke negara-negara tersebut, di mana biaya tenaga kerja murah.

vii . Perluasan Pasar Domestik :

Bisnis internasional menyebabkan pasar domestik berkembang melampaui batas nasional dan memasarkan produknya di pasar internasional. Dengan menggunakan teknologi baru dan upaya pemasaran, pengusaha dapat memiliki potensi pertumbuhan yang lebih cerah untuk masa depan.

viii . Globalisasi Pelanggan :

Ketika pelanggan di suatu negara lebih suka membeli produk merek asing daripada produk dalam negeri, perusahaan harus masuk untuk internasionalisasi bisnis. Ini akan membantu perusahaan untuk mengimbangi persaingan untuk menarik pelanggan.

ix . Globalisasi Pesaing :

Bisnis internasional meningkatkan peluang untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan wirausahawan. Ini juga memotivasi perusahaan untuk menghadapi persaingan dari pendatang global di pasar, yang mengarah pada pertumbuhan pasar, mengejar standar global.

x . Meningkatkan Citra Perusahaan :

Bisnis internasional meningkatkan citra perusahaan di pasar domestik dan menarik lebih banyak pelanggan di pasar domestik dan menjadikan mereka loyal kepada perusahaan.

5. Ecopreneurship:

Ecopreneurship juga dikenal sebagai 'Green Entrepreneurship' paling sederhana disebut sebagai pengembangan perusahaan melalui kewirausahaan, sementara memasukkan perspektif yang bertanggung jawab terhadap lingkungan ke dalam operasi dan tujuan pengusaha.

Istilah 'ecopreneurship' mulai banyak digunakan pada 1990-an. Atau disebut sebagai "kewirausahaan lingkungan". Ecopreneurship adalah istilah yang diciptakan untuk mewakili proses prinsip-prinsip kewirausahaan yang diterapkan untuk menciptakan bisnis yang memecahkan masalah lingkungan atau beroperasi secara berkelanjutan.

Definisi dan Arti :

Gwyn Schuyler - "Ecopreneurship, juga dikenal sebagai kewirausahaan lingkungan dan ekokapitalisme, menjadi lebih luas sebagai pendekatan berbasis pasar baru untuk mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan memanfaatkan mereka sektor swasta untuk mendapatkan keuntungan".

Schuyler - "Ecopreneurs adalah pengusaha yang usahanya tidak hanya didorong oleh keuntungan, tetapi juga oleh kepedulian terhadap lingkungan".

Definisi ecopreneurship dan konsep yang mendefinisikan istilah telah berubah.

David Kainrath telah mendefinisikan ecoprenuership sebagai konvergensi dari tiga konsep utama, termasuk:

saya. Inovasi lingkungan

ii. Kesempatan ramah lingkungan

aku aku aku. Komitmen lingkungan.

Kainrath menyatakan bahwa perusahaan ekopreneurial adalah perusahaan di mana tiga konsep ekopreneurship terwujud.

Pentingnya Ecopreneurship :

saya. Kegiatan kewirausahaan dalam hal ecopreneurship kurang memberikan fokus pada sistem manajemen atau prosedur teknis.

ii. Ini memberikan lebih banyak fokus pada inisiatif pribadi dan keterampilan orang atau tim wirausaha untuk mewujudkan keberhasilan pasar dengan inovasi lingkungan.

aku aku aku. Ini mengadopsi praktik dan nilai-nilai bisnis yang sangat bertanggung jawab terhadap lingkungan.

iv. Ini menekankan perspektif sosial sambil mempertimbangkan solusi inovatif melalui komitmen ecopreneurs.

v. Ini menggantikan metode produksi konvensional, produk, struktur pasar dan pola konsumsi dengan produk dan layanan lingkungan yang unggul.

vi. Ini ditandai dengan tingkat kreativitas, kolaborasi dan orientasi sosial yang tinggi.

6. Kewirausahaan Sosial :

Prof. Muhammed Yunus - “Kewirausahaan sosial adalah solusi kreatif dan inovatif yang diterapkan untuk menyelesaikan masalah sosial”.

Kewirausahaan sosial berarti mengakui masalah sosial dan menggunakan prinsip-prinsip kewirausahaan, proses dan operasi untuk melakukan perubahan sosial. Pengusaha sosial memiliki solusi inovatif untuk masalah sosial yang paling mendesak. Kreativitas dan inovasi adalah alat terpenting mereka. Kewirausahaan sosial memobilisasi ide, kapasitas, sumber daya, dan pengaturan sosial yang diperlukan untuk transformasi sosial berkelanjutan jangka panjang.

Kewirausahaan sosial adalah katalis untuk perubahan sosial. Pengusaha sosial adalah pelopor inovasi yang bermanfaat bagi umat manusia pada umumnya. Mereka ambisius dan gigih, dan ahli dalam mengatasi masalah sosial utama dan menawarkan ide-ide baru untuk perubahan skala besar. Bank Grameen dari Prof. Muhammed Yunus dari Bangladesh, gerakan Hadiah Tanah dari Vinoba Bhave, Drishtee dari Satyan Mishra, SEWA dari Ela Bhatt dari India adalah contoh-contoh utama dari praktik kewirausahaan sosial.

Pentingnya Kewirausahaan Sosial :

saya. Seiring dengan masalah sosial, kewirausahaan sosial berfokus pada masalah lingkungan atau budaya.

ii. Ini memainkan peran agen untuk perubahan dalam masyarakat dengan mengadopsi misi untuk menciptakan dan mempertahankan nilai-nilai sosial.

aku aku aku. Ini adalah proses inovasi berkelanjutan, adaptasi, dan pembelajaran.

iv. Itu berarti bertindak dengan berani tanpa dibatasi oleh sumber daya di tangan.

v. Keberhasilannya diukur bukan dalam hal laba, tetapi dalam hal kesejahteraan sosial.

7 . Kewirausahaan di Sektor Pertanian / Agripreneurship :

Sektor pertanian memainkan peran yang tangguh dalam pertumbuhan dan perkembangan ekonomi India yang berkelanjutan. Mengembangkan kewirausahaan di sektor pertanian dikenal sebagai agripreneurship. Agripreneurship atau agribisnis mencakup semua operasi yang terlibat dalam pembuatan dan distribusi pasokan pertanian.

Ini terdiri dari kegiatan yang berkaitan dengan produksi, perbanyakan dan distribusi produk dan layanan yang berkaitan dengan pertanian, florikultura, hortikultura, serikultur, budidaya air, peternakan, dan bioteknologi.

Pentingnya Agripreneurship :

saya. Agripreneurship menggunakan keterampilan wirausaha, model, dan ide-ide inovatif untuk menyelesaikan masalah di sektor pertanian secara ekonomi.

ii. Ini meningkatkan profitabilitas bisnis pertanian.

aku aku aku. Ini memecahkan tantangan terkait dengan penyebaran informasi, manajemen pertanian, ketersediaan modal, mekanisasi pertanian dan rantai pasokan pertanian.

iv. Ini memberikan solusi inovatif untuk beberapa masalah pertanian kritis seperti produktivitas tanaman dan biaya input untuk pertanian.

v. Ini memecahkan masalah pemborosan tanaman yang disebabkan oleh kurangnya fasilitas penyimpanan, dan manajemen rantai pasokan yang tidak tepat.

vi. Penggunaan teknologi digital seperti penginderaan jauh, Sistem Informasi Geografis (SIG), Internet of Things (IoT), ditambah dengan pengambilan keputusan dan analisis berbasis data dapat meningkatkan produktivitas pertanian, meminimalkan pemborosan pertanian, dan meningkatkan pendapatan petani.

vii. Teknologi digital bersama dengan analitik data di setiap tahap siklus hidup pertanian-produksi membuat aktivitas pertanian lebih didorong oleh wawasan, berpotensi lebih produktif dan efisien.

viii. Ini membantu mencapai kemajuan terkait keamanan pangan, aksesibilitas, dan keterjangkauan.

ix. Ini menghasilkan peluang kerja dan memungkinkan penggunaan sumber daya lokal.


Jenis-jenis Kewirausahaan - 5 Jenis Kewirausahaan Penting: Budaya, Internasional, Sosial, Kewirausahaan Komersial, dan Transpreneurship

Tipe # 1. Kewirausahaan Budaya :

Kewirausahaan budaya sulit untuk didefinisikan. Ini memiliki definisi luas yang mencakup 'budaya' dan 'cara hidup' dan juga 'seni' atau 'industri kreatif'

Kewirausahaan Budaya adalah di mana para wirausahawan adalah agen perubahan budaya dan visioner yang memiliki sumber daya yang mengatur modal budaya, keuangan, sosial dan manusia, untuk menghasilkan pendapatan dari kegiatan budaya. Solusi inovatif mereka menghasilkan perusahaan budaya yang berkelanjutan secara ekonomi yang meningkatkan mata pencaharian dan menciptakan nilai dan kekayaan budaya bagi produsen dan konsumen kreatif layanan dan produk budaya.

Istilah kewirausahaan budaya berlaku untuk penciptaan produk atau layanan apa pun yang terutama menargetkan selera kita, apakah itu selera kita dalam mode, film, musik, cerita, permainan, masakan, atau pendapat. Surat kabar adalah bagian dari media; tetapi majalah seperti People atau Vanity Fair akan menjadi bagian dari industri budaya.

Budaya, lebih dari hampir semua industri lain, hampir selalu berada dalam domain pribadi; hanya di negara yang sangat disayangkan, budaya secara signifikan dilakukan oleh sektor publik. Jadi, budaya dihasilkan oleh individu pribadi yang menghabiskan upaya menciptakannya, memasarkannya, dan mencoba mencari nafkah dengan menjualnya.

Industri-industri ini diatur dengan baik, meskipun sebagian besar berjalan dengan margin rendah dan perusahaan-perusahaan yang terlibat utamanya kecil, dan secara universal kekurangan uang. Jadi, budaya adalah sarang kewirausahaan.

Definisi Kewirausahaan Budaya :

(i) Menurut Aageson "Kewirausahaan budaya adalah mata rantai yang hilang antara bakat kreatif dan pasar".

(ii) Menurut Martin, & Witter “Kewirausahaan budaya berbeda dari kewirausahaan sosial karena ia terutama berfokus pada menata kembali peran sosial dan memotivasi perilaku baru - sering bekerja dengan dan dalam budaya populer untuk menjangkau audiens seluas mungkin. Ini tentang mengubah hati dan pikiran.

(iii) Sesuai dengan pandangan Hagoortetal. “Kewirausahaan budaya adalah pendekatan organisasi yang memiliki titik awal dalam misi budaya yang diarahkan kepada publik, dan yang melihat peluang dalam masyarakat untuk memastikan pendanaan optimal untuk operasi bisnis budaya, memastikan bahwa organisasi yang bersangkutan menjadi bagian dari infrastruktur budaya yang terbuka dan dapat diakses. ”

(iv) Menurut Hernandez-Acosta, “Kewirausahaan budaya diperlakukan sama dengan kewirausahaan seni yang mencakup bidang seni visual, seni pertunjukan, musik dan penerbitan. Seorang seniman sebagai wirausahawan adalah inti dari definisi ini ”.

(v) Menurut Hausmann, kewirausahaan budaya didefinisikan sebagai “kewirausahaan di sektor budaya; di mana sektor budaya terdiri dari arsitektur dan desain, penerbitan musik, penerbitan buku, media, industri film, pemasaran seni, masyarakat seni, galeri seni, museum, perpustakaan, teater, opera dan musikal; sementara itu termasuk sektor swasta sebagian besar terbatas pada sektor publik dan nirlaba ”.

Kewirausahaan Budaya di India :

India telah memiliki beberapa sektor budaya dewasa dan maju seperti industri Film dan musik. Industri-industri ini telah berkembang menjadi kelas dunia selama periode waktu tertentu. Restoran juga hadir secara universal, bersama dengan restoran-restoran ikonik di setiap kota. Perubahan yang kita lihat sekarang adalah pertumbuhan sektor budaya baru: ledakan dalam penerbitan, terobosan dalam animasi, kebangkitan komik, sedikit pertumbuhan dalam fashion, dan yang sangat penting, gelombang besar ruang rekreasi yang dipimpin oleh pertumbuhan luar biasa yang dialami oleh kafe dalam dekade terakhir.

Mari kita pahami budaya anak-anak yang sedang berkembang pesat. Anak-anak adalah konsumen budaya yang hebat, dan penting untuk memiliki konten yang hebat untuk anak-anak, karena mereka belajar lebih banyak melalui cerita dan permainan, dibandingkan dengan apa yang mereka lakukan dengan duduk di kelas Geografi dan Sejarah. Mereka tentu belajar banyak etika melalui kisah-kisah yang mereka minum.

Peluang ini ada. Bahkan, ini adalah industri yang paling menggairahkan pengusaha, di mana mereka berencana untuk memulai bisnis baru.

Tipe # 2. Kewirausahaan Internasional:

Kewirausahaan internasional adalah proses seorang wirausahawan yang melakukan kegiatan bisnis melintasi batas negara. Ini dapat terdiri dari ekspor, perizinan, pembukaan kantor penjualan di negara lain, dll. Bidang kewirausahaan internasional yang baru berkembang dengan cepat dalam cakupan dan kompleksitas, karena semakin banyak perusahaan di seluruh dunia yang bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar global yang lebih besar dan menarik konsumen baik pada dalam dan luar negeri.

Mari kita memahami arti kewirausahaan internasional dengan bantuan beberapa definisi di bawah ini:

(i) Kewirausahaan internasional adalah cara menjalankan kegiatan bisnis di seluruh batas negara. Ini termasuk mengekspor, melisensikan, atau membuka kantor penjualan di negara lain. Ketika seorang wirausahawan menjalankan bisnisnya di lebih dari satu negara, kewirausahaan internasional terjadi.

(ii) Kewirausahaan internasional didefinisikan sebagai "pengembangan usaha baru internasional atau startup yang sejak awal mereka terlibat dalam bisnis internasional, sehingga memandang domain operasi mereka sebagai internasional dari tahap awal operasi internasional".

(iii) Kewirausahaan internasional juga dapat didefinisikan sebagai "penemuan, pemberlakuan, evaluasi, dan eksploitasi peluang lintas batas nasional untuk menciptakan barang dan jasa masa depan".

Tipe # 3. Kewirausahaan Sosial :

Pengusaha Sosial adalah orang yang mendirikan perusahaan dengan tujuan menyelesaikan masalah sosial atau melakukan perubahan sosial. Contoh-contoh kewirausahaan sosial termasuk lembaga keuangan mikro, program pendidikan, menyediakan layanan perbankan di daerah-daerah yang kurang terlayani dan membantu anak-anak yatim piatu karena penyakit epidemi. Tujuan utama dari wirausahawan sosial bukanlah untuk mendapatkan keuntungan, tetapi untuk mengimplementasikan peningkatan yang luas di masyarakat. Namun, seorang wirausahawan sosial harus tetap cerdas secara finansial untuk berhasil dalam tujuannya.

Kewirausahaan sosial dalam masyarakat modern menawarkan bentuk kewirausahaan yang altruistik yang berfokus pada manfaat yang dapat diperoleh masyarakat. Dengan kata sederhana, kewirausahaan menjadi upaya sosial ketika mengubah modal sosial dengan cara yang mempengaruhi masyarakat secara positif. Ini dipandang menguntungkan karena keberhasilan kewirausahaan sosial tergantung pada banyak faktor yang berkaitan dengan dampak sosial yang tidak diprioritaskan oleh bisnis korporasi tradisional.

Pengusaha sosial mengenali masalah sosial langsung, tetapi juga berusaha untuk memahami konteks yang lebih luas dari masalah yang melintasi disiplin ilmu, bidang, dan teori. Mendapatkan pemahaman yang lebih besar tentang bagaimana suatu masalah berhubungan dengan masyarakat memungkinkan wirausahawan sosial untuk mengembangkan solusi inovatif dan memobilisasi sumber daya yang tersedia untuk mempengaruhi masyarakat global yang lebih besar. Tidak seperti bisnis perusahaan tradisional, usaha kewirausahaan sosial fokus pada memaksimalkan keuntungan dalam kepuasan sosial, daripada memaksimalkan keuntungan.

Kewirausahaan sosial di India muncul terutama karena apa yang belum dapat dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah sangat tertarik untuk mempromosikan kewirausahaan sosial untuk mengambil penyebab seperti buta huruf, polusi, makanan dan pakaian untuk yang kurang mampu dll. Misalnya, di Mumbai saja, organisasi nirlaba mendidik lebih dari 250.000 anak setiap hari. Pemerintah belum memberi tahu organisasi-organisasi ini untuk tidak melakukannya. Ini adalah layanan sukarela.

Makna & Konsep Pengusaha Sosial :

Konsep ini sedang dibahas secara singkat di sini untuk membuat perbandingan dengan kewirausahaan komersial; Pengusaha sosial adalah individu dengan solusi inovatif untuk masalah sosial yang paling mendesak di masyarakat. Mereka ambisius dan gigih, menangani masalah sosial besar dan menawarkan ide-ide baru untuk perubahan skala besar. Daripada menyerahkan kebutuhan sosial kepada pemerintah atau sektor bisnis, wirausahawan sosial menemukan apa yang tidak berfungsi dan menyelesaikan masalah dengan mengubah sistem, menyebarkan solusi, dan membujuk seluruh masyarakat untuk mengambil lompatan baru.

Para wirausahawan sosial sering kali dirasuki oleh ide-ide mereka, menyerahkan hidup mereka untuk mengubah arah bidang mereka. Mereka berdua adalah visioner dan realis ulung, yang peduli dengan implementasi praktis dari visi mereka di atas segalanya.

Setiap wirausahawan sosial menyajikan ide-ide yang ramah pengguna, dapat dimengerti, etis, dan menghasilkan dukungan luas untuk memaksimalkan jumlah penduduk lokal dan muncul sebagai perekrut massal pembuat perubahan lokal dan panutan, membuktikan bahwa warga negara yang menyalurkan hasrat mereka dalam tindakan dapat melakukan hampir semua hal.

Arti Kewirausahaan Sosial :

Kewirausahaan sosial, atau kegiatan kewirausahaan dengan tujuan sosial yang melekat, telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Telah ada pertumbuhan luar biasa dalam jumlah organisasi nirlaba, yang meningkat secara substansial. Namun, dinamika ini bahkan lebih kuat, karena bentuk-bentuk kewirausahaan sosial lainnya, di luar yang terjadi di sektor nirlaba, juga telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kewirausahaan sosial masih muncul sebagai bidang penyelidikan dan penelitian akademis.

Makna, seperti yang dirasakan oleh berbagai peneliti, kewirausahaan sosial berkisar dari luas hingga sempit. Dalam arti luas, kewirausahaan sosial mengacu pada kegiatan inovatif dengan tujuan sosial baik di sektor nirlaba, seperti dalam usaha komersial tujuan sosial atau di sektor nirlaba, atau lintas sektor, seperti bentuk struktur hibrida yang memadukan untuk pendekatan nirlaba dan nirlaba.

Di bawah definisi yang sempit, kewirausahaan sosial biasanya merujuk pada "fenomena penerapan keahlian bisnis dan keterampilan berbasis pasar di sektor nirlaba seperti ketika organisasi nirlaba mengembangkan pendekatan inovatif untuk mendapatkan penghasilan".

Umum di semua definisi kewirausahaan sosial adalah kenyataan bahwa kekuatan pendorong yang mendasari dan faktor kunci untuk kewirausahaan sosial adalah "untuk menciptakan nilai sosial, daripada kekayaan pribadi dan pemegang saham dan bahwa kegiatan ini ditandai dengan inovasi", atau penciptaan sesuatu yang baru daripada sekadar menjalankan perusahaan atau praktik yang ada secara tradisional.

Penggerak utama kewirausahaan sosial adalah masalah sosial yang sedang ditangani, dan bentuk organisasi tertentu yang diambil oleh perusahaan sosial harus merupakan keputusan berdasarkan format mana yang paling efektif memobilisasi sumber daya yang diperlukan untuk mengatasi masalah itu.

Oleh karena itu, kewirausahaan sosial tidak didefinisikan oleh bentuk hukum, karena dapat ditempuh melalui berbagai kendaraan. Bahkan, contoh kewirausahaan sosial dapat ditemukan di dalam atau dapat menjangkau melalui sektor nirlaba, bisnis, atau pemerintah.

Ketik # 4. Transpreneurship :

Jalan menuju kewirausahaan, bagi sebagian orang, tidak sama dengan jalan bagi pengusaha perkotaan. Untuk mengubah persepsi bahwa 'komunitas gender ketiga' hanyalah pengemis atau pekerja seks, sebuah kelompok sukarelawan telah menemukan cara baru untuk mendukung mereka sebagai pengusaha, 'Anam Prem', sebuah kelompok sukarelawan yang berbasis di Mumbai menyelenggarakan dua hari 'Tran dan Hijra 'Mela Kewirausahaan di Mumbai dengan 35 kios. Orang-orang dari komunitas tersebut, dari lebih dari 12 Negara, mendirikan kios yang berbeda.

Terlepas dari kenyataan bahwa, sebagian besar anggota dari komunitas Transgender dan Hijra bahkan tidak memiliki rekening bank, mereka memasuki kegiatan bisnis skala kecil seperti makanan, bunga buatan, perhiasan buatan dll.

Urmi Jadhav, seorang seniman pertunjukan dari komunitas, menginvestasikan rupee satu lac, dari tabungannya sendiri untuk bisnis sari desainernya.

Madhuri Sarode, anggota lain memulai bisnis perhiasan dengan cara yang sama, tanpa banyak dana dan dukungan.

Dengan bantuan LSM, kewirausahaan ini juga mengejar ketertinggalan dan segera anggota komunitas ini akan muncul sebagai pengusaha.

Jenis # 5. Kewirausahaan Komersial:

Itu dipandang memiliki untung sebagai motif utamanya:

Meskipun konsep kewirausahaan pertama kali didefinisikan lebih dari 250 tahun yang lalu, banyak yang menganggapnya sebagai salah satu kekuatan misterius sifat manusia. Praktek kewirausahaan, tentu saja, setua perdagangan antara suku dan desa. Pandangan sebelumnya tentang kewirausahaan berfokus pada fungsi ekonomi kewirausahaan atau pada sifat individu yang adalah "wirausahawan, " sedangkan dalam beberapa tahun terakhir, fokus telah bergeser pada berbagai dinamika "bagaimana" kewirausahaan yang didefinisikan sebagai "Mengejar peluang di luar sumber daya berwujud yang saat ini dapat dikontrol seseorang".

Karakteristik Kewirausahaan Komersial :

(i) Organisasi wirausaha berfokus pada peluang, bukan sumber daya.

(ii) Pengusaha harus berkomitmen dengan cepat, tetapi sementara, untuk dapat menyesuaikan kembali ketika informasi baru muncul. Jika informasi tidak digunakan tepat waktu, hasilnya bisa merugikan laba.

(iii) Proses komitmen menjadi multistage, membatasi komitmen sumber daya pada setiap tahap hingga jumlah yang cukup untuk menghasilkan informasi dan keberhasilan baru, sebelum lebih banyak sumber daya dicari.

(iv) The entrepreneurial organization uses the resources that lie within the hierarchical control of others and, therefore, must manage the network as well as the hierarchy very well so that decisions are taken in favour of the entity are taken.


Types of Entrepreneurship – Intrapreneurship, Technopreneurship, Netpreneurship, Ecopreneurship, International, Culture and Social Entrepreneurship

I. Intrapreneurship:

It is the practice of entrepreneurship by an employee in an established organization to convert a lucrative idea in to a business opportunity. Intrapreneurs can be either the employees or even leaders in an organization riding high on self-motivation, creativity, and innovation while assuming risk without being asked to do so.

The term Intrapreneur was first defined by Gifford Pinchot in 1984. He defines intrapreneurs as “dreamers who do. Those who take hands on responsibility for creating innovation of any kind without being asked to do so”.

Definition of Intrapreneurship :

According to American Heritage Dictionary an intrapreneur means, “A person within a large corporation who takes direct responsibility for turning an idea into a profitable finished product through assertive risk-taking and innovation”. Intrapreneurship is also known as Corporate Entrepreneurship, where formal structures for promoting intrapreneurship lead to greater possibility of profitability and growth.

Many a times, nearly 80% of any organization's employees feel discontented and demotivated to pursue the structured activity with a predefined systems and processes. They strongly experience the need to innovate either the mechanism, or product or processes to either redo or undo or outdo the earlier ways of doing the business.

If not properly stimulated and encouraged, such employees may leave the organization and start new entity of their own. But when properly nurtured, these employees provide cutting edge to the organizations by coming out with more cost effective ways of doing the erstwhile tasks or innovating altogether a novelty. Such Intrapreneurs while drawing from organisation's resources, become exceptional at leading the teams and make quick decisions to seize the opportunity.

Quiet often the presence of Intrapreneurs are rewarding for employees as well as for the organization as they chalk out the strategy to convert unconventional, out of the box ideas into viable and lucrative business models. For example, at a reputed company Lockheed Martin, a passionate employee, Kelly Johnson, came up with the idea of creating Advancement Development Program (ADP), popularly named as “Skunk Works”, to build P-80 fighter jets. Skunk Works, formed in 1943, developed one of the most innovative aircrafts models, is still in operations today.

The team members could come up with such valuable Innovation, only when they were allowed to operate with great flexibility while drawing resources from the organisation.

When organizations develop an ecosystem to nurture intrapreneurship then it is also referred as Corporate Entrepreneurship. Now Corporate Entrepreneurship has become a full-fledged management discipline and widely practiced by umpteen companies across the globe.

Noted global companies like Google, Intel, 3M and Siemens are some of the companies that promote intrapreneurship within their organizations, allowing their employees to spend a certain percentage of their time on innovative ideas that are not related to their normal jobs.

For example, animation world was swept by its feet when employee of Microsoft, Robbie Bach J Aallrd and his team invented Xbox, Gaming Console. It would not have been possible without millions of money funded by Microsoft for encouraging the same. Even consultancy companies like Accenture, Barclays and Deloitte have devised formal programmes to motivate their employees to innovate. Closer home Indian companies like Infosys, TCS and Kinetic

India have also created new products and utilities through the innovations developed by creative employees.

As intrapreneurs are required to act pro-actively, often they go beyond the organizational bureaucracy and defined processes to visualize and formalize the opportunity. If the innovative and radical strategies are stifled in an organization, then the business has to look outside for entrepreneurship. In the 21st century organisation should nurture conducive environment, flexibility and healthy policy frameworks to bolster creativity, self-assumed responsibility and risk taking amongst employees.

Importance of Intrapreneurship :

By inculcating intrapreneurship in an organisation, while companies gain and develop a competitive edge for themselves in the industry, employees also find necessary infrastructure processes and funds for crystallizing their ideas in to reality.

The Importance of Intrapreneurship in an organization can be described as below:

1. Identification of opportunity – The first task of an intrapreneur is to identify the lucrative idea. He needs to test whether idea is user friendly, market adaptable and in consonance with the specified goals and strategies of the organization.

2. Idea presentation – The intrapreneur clearly presents the idea to other members of organization and takes their feedback and suggestions for improvement.

3. Ideas implementation – To implement the discussed proposals, the intrapreneur forms a team which puts the idea in action and converts the idea into an enterprise.

4. Strategy and Planning – Effective intrapreneurial strategies always help the entrepreneur/organization to win over their competitors and grab every lucrative opportunity.

5. Expansion of the enterprise – The ultimate goal of Intrapreneurship is to create that kind of entrepreneurial mindset and infrastructure which are needed to support growth in an organization.

6. Fostering Innovation in the organization – Intrapreneurship fosters organizational growth while strengthening employee morale and productivity. Intrapreneurship primarily thrives on the innovation and creativity of employees. Intrapreneurship and innovation are so closely intertwined that often it is difficult to imagine intrapreneurship without innovation.

7. Leadership – Last but the utmost task of an intrapreneur is to be the leader and drive other employees within his team and then the organization towards sustainability and realization of innate talent of staff.

Drivers of Intrapreneurship :

During the recent years, there has been growing interest in intrapreneurship owing to following factors:

1. Urgency to harness an environment to support and sustain innovation.

2. Need to engage and nurture the best and brightest talent in the organization

3. Introduction and penetration of change successfully and effectively in the business.

4. Ever increasing pressure to improve overall productivity and profitability.

5. Need to generate new businesses facilitating growth.

Identifying and Cultivating Corporate Entrepreneurs :

As intrapreneurs are crucial for success as well as for transformation of organizations, organizations must carefully identify its individual intrapreneur among its employees. Those exhibiting entrepreneurial traits like vision, passion, willingness to take risks and demonstrated leadership skills should be properly trained as well as encouraged to experiment and innovate to add value to the business.

A company should develop a complete model of corporate entrepreneurship by clearly defining how the flow of creative ideas will be addressed and resultant innovations will be supported by the company.

What organization should do to promote intrapreneurial environment?

1. Top management should be receptive and welcome with open arms innovative ideas.

2. Adequate and timely allocation of resources to strengthen innovation.

3. 360 degree of communication to facilitate two way communications between employees and senior management level to voice and illustrate ideas and suggestions.

4. Orientation towards creating value rather than wealth.

5. Timely recognition and reward system for nurturing intrapreneurship.

II Technopreneurship :

It is the application of entrepreneurship in a technology intensive context to develop new products, processes and or services for self, organization or society. When an entrepreneur combines his talent with a high cutting edge technology to come out with novelty, he is said to be technopreneur.

A technopreneur is an entrepreneur who is technology driven, innovative and risk taker to assume unexplored path. A technopreneur enjoys both technology and business skills to capture high growth opportunity. He uses technology to arrive with new products utilities or services through a process of commercialization. Technopreneur constantly remain engaged in either finding new or refined way of completing a task or solving a problem while armed with technology based solutions.

Some of the iconic technopreneurs like Bill Gates (Microsoft), late. Steve Jobs (Apple), Mark Zuckerberg (Facebook), Sergey Brin and Larry Page (Google), have innovated some of the most marvelous innovations for human kind. By combining their technical and intellectual knowledge with commerce, these technopreneurs have created highly appreciable products, utilities and services for society and wealth and repute for themselves.

These inventions by visionary entrepreneurs have led large scores of people to experiment, adopt and finally engage in new forms of businesses, offering myriad services in diverse business fields like B2B, B2C, B2G, G2C and even now the most concurrent, M2M (Machines to Machines).

Machines to Machines is a subpart of drive called as Internet of things, initiated by our Honorable Prime Minister Shri Narendra Modi. Internet of things is the drive to electronically connect machines to machines over large geographical spaces to enable speeder and effective communication between people and devices across different networks.

Now various websites like Alibaba(dot)com, Myntra(dot)com, Naukri(dot)com, Du(dot)ac(dot)in, Mygov(dot)in, Linkedln, Health(dot)com and so on facilitate people to manage businesses, do shopping, search jobs, gain education, comply with Government norms, socialize with society and also take care of their health while being online.

As nothing comes free of cost, too much invasion and dependence on technology has once again enslaved humankind, but this time to technology. The increasing addiction to technology has swept away people from reality meanwhile also highlighting the need to reorient entrepreneurs towards more socially, environmentally sustainable business models.

AKU AKU AKU. Netpreneurship (E-Entrepreneurship/Cyberpreneurship) :

The virtual world of internet has opened sea of opportunities for scores of individuals, organizations, society and nations. Through a personal computer, now even through a mobile phone one can buy/sell/use or reuse a product or service available online. Now businesses in particular startups have also noted the influence and the outreach of internet and have moved from brick and mortar to online business to witness as well as gain the rewards of technology.

Meaning of Netpreneurship :

Netrpreneurship is the process of identifying and pooling bunch of resources to convert a promising opportunity in to a viable business venture online. It is the internet based entrepreneurship that works through online domain only.

When a person matches his 'intellectual capital' with' 'connectivity' to offer goods and services online, he is referred as a Netpreneur or e-preneur. These kinds of netpreneurs are also known as Self Employed Netpreneurs (SENs), employing other employees for carrying online services. A Netpreneur can be a self-employed individual or one who predominantly employs several virtual employees

Definition of Netpreneurship :

The Longman Dictionary of Contemporary English defines “net-pre-neur”, “as someone who has started an Internet business”. A Netpreneur is a person who creates, delivers products and services through online mode.

Netrpreneurship enables the businesses and in particular startups to identify engage and retain consumer through social or company based portals for exchange of goods, services and ideas. The escalating costs, complexity and the saturated markets in brick and mortar mode has led many entrepreneurs find an alternative business model in the form of netrpreneurship. Netpreneurship is comparatively an affordable business proposition to begin with.

Some of the world's most influential companies began their humble steps through netpreneurship only. For eg the world's leading company Google was started by its founders in late 1990 as a start-up only that too in a garage. Other similar companies include e-bay(dot)com, amazon(dot)com, paytm(dot)com, Flipkart(dot)com, monster(dot)com and so on.

Now days, with the advent of internet-based technologies like email, Web, VoIP (voice over internet protocol), and remote access software to communicate with global employers, has made working from home much easier and enjoyable for large number of self-employed people. A home office is a good choice for professionals who operate their own service-based small business (ie, real estate, pet care, legal services) and for some Internet-based business including email marketing services, consulting services or e-commerce services.

Those entities that mainly operate in virtual world and engage into some offline services or resources for marketing or order fulfillment purposes are known as 'Small and Home Office' (SOHO) establishments. Due to rise in the number of these entities, various web based services and business software's are created to cater to these kinds of netpreneurs who thrive their businesses through the internet medium.

As we research and experiment further between zero and one (language understood by computers), Netrpreneurship will be the face of future business, holding unimaginable potential for meteoric growth of not only businesses but also of people and their respective nations.

However, the business should also remain wary of the pitfalls of running online business. Online business may involve cyber-crimes like hacking, phishing, morphing and so on.

IV. International Entrepreneurship :

It is the process by which a startup/ venture or an established firms while capitalizing on creativity, risk taking and innovativeness, internationalize their operations across national boundaries. Through international entrepreneurship, an entity identifies an opportunity, configures its value chain, finalizes the geographical domain to be internationalized and finally picks the ways to reach the end customers in international markets.

International entrepreneurship (IB) bolsters the growth prospects of a firm by pooling physical, financial, human, technological and capital resources across allied foreign markets meanwhile milking the economies of scale and also warding off the stiff competition at home as well as abroad.

Some of the prerequisites for international venturing may include factors like financial strength, global experience, Research and development expenses, age of the firm, size of the firm, network relations and global visions along with much needed environmental scanning.

The main difference between a domestic entrepreneurship and international entrepreneurship is seizing of opportunity at different geographical spaces. Though through both the processes, the entrepreneur riding high on his innovativeness and risk taking aims to create, recreate and finally deliver a product or service yet the orientation is different in both forms of entrepreneurship.

In case of international entrepreneurship, networking across foreign partners in terms of institutions or organizations is paramount to the success rate of such ventures. While in domestic entrepreneurship, the entrepreneur leverages his innate talent, skills by pooling resources with in local settings.

This process of internationalization can be pursued by both new firms, ie by startups or even by established firms. When startups pursue it, they are known as 'Born global firms'. These startups right from the stage of inception harbor international orientation and begin their operations at international level.

For example, Logitech, the computer peripherals company, manufacturing even PCs today, has international orientation right from the beginning and expanded very rapidly after starting operations and R&D from California and Switzerland.

Definition :

According to renowned researchers, Oviatt and McDougall (2005), International entrepreneurship is the discovery, enactment evaluation and exploitation of opportunities— across national borders—to create future goods and services.

International entrepreneurship includes various outlets through which a small yet competitive firm can enter the foreign shores, including exports, licensing, international franchising, international cooperative alliances, counter trading and bartering as firm adapt themselves to not only survive but also grow in the backdrop of cut throat competition. For example companies like Adidas, PepsiCo. KFC, Starbucks etc. have international operations all over the world.

Further it will also include new joint venture, IPO, when entrepreneurial activities require networking and resources to further penetrate and act as 'Local while being Global'.

However as per the life cycle and internationalization theories, “a firm enters international markets successively starting from exporting and then gradually maturing towards stages like franchising, contract manufacturing and finally relocation of production to overseas location (FDI)”.

Therefore, to begin with large number of start-ups may resort to exporting before leapfrogging their way in international market by gradually embracing FDI. Especially for Small and Medium size enterprises, exporting is promising opportunity through which they can gain knowledge of international markets, marketing scenario, relevant rules and regulations and later leverage their learning and experiences to relocate their production to overseas locations also.

Difference between Domestic Entrepreneurship and International Entrepreneurship :

Domestic Entrepreneurship:

1. Orientation – Domestic

2. Format of entry – Registration of entity under relevant domestic laws

3. Ease of business – Fairly convenient

4. Technological adaptability – Relevant for the specific industry / business confined to a single country

5. Cultural sensitivity – Understanding of local culture

6. Government Policy – Compliance with domestic country relevant rules and regulations

7. Economic system – Understanding of local system

8. Growth possibilities – Limited to market size

9. Risk and reward – Limited

International Entrepreneurship:

1. Orientation – International

2. Format of entry – Registration under domestic and international laws

3. Ease of business – Complex and dynamic

4. Technological adaptability – Technological advancement and adaptability of different operations in different countries

5. Cultural sensitivity – Specific and close understanding of cultural diversity among customers and employees

6. Government Policy – Multi Governments rules and regulations for entry, operations and exit

7. Economic system – Understanding of different economic systems and various markets

8. Growth possibilities – Unlimited opportunities

9. Risk and reward – High and unlimited

Factors to be Considered While Entering Foreign Markets :

A careful analysis of following factors have to be done before the entrepreneur can decide to venture into international market:

1. Country Specific Factors:

saya. Political factors

ii. Business related policies and environment

aku aku aku. General laws and regulations

iv. Host of benefits and protection available to foreign firm

v. Legal framework

vi. Cultural factors including the customers profile

2. Industry Specific Factors:

saya. Demand and supply dynamics

ii. Ease of entry and exit

aku aku aku. Specific industrial norms

iv. Type and intensity of Completion

3. Firm Specific Factors:

saya. Availability of internal resources

ii. Ease, cost and availability of external resources

aku aku aku. Relative experience of the firm including its age

iv. Technological prowess of the firm

v. The unique selling proposition of the firm

4. Project Specific Factors:

saya. Size of the project

ii. Availability of various kinds of resources

aku aku aku. Type and stage of project being undertaken

Modes of Entry into International Market :

An entrepreneur can resort to various modes of entry in to international market starting from the basic form of exporting to more challenging one like FDI.

Following is the sequential guide to different modes of entry in International market:

1. Exporting:

The process through which goods and services manufactured in one country are sold in to another country/ies.

It may involve two sub-parts:

saya. Direct exporting – where the concerned company is solely responsible for selling directly its goods to the consumers in their respective country through various agents.

ii. Indirect Exporting – where the manufacturer hands over his products to another domestic producer/exporting agent/to sell the goods to end consumers in other countries.

2. Licensing:

In this mode of entry, the manufacturer of the home country leases the right of intellectual properties, ie, technology, copyrights, brand name, etc., to a manufacturer of a foreign country for a predetermined fee. The manufacturer that leases is known as the licensor and the manufacturer of the other country that gets the license is known as the licensee.

3. Franchising:

In this mode, an independent firm called the franchisee does the business using the name of another company called the franchisor. In franchising, the franchisee has to pay a fee or a fraction of profit to the franchisor. The franchisor provides the trademarks, operating process, product reputation and marketing, HR and operational support to the franchisee. For example international eateries brands like McDonald's and Pizza hut have resorted to franchising mode to enter the foreign markets.

4. Specialized Entry Modes:

saya. Contract Manufacturing:

In this arrangement either the entire or some part of the job is transferred to a third party in the country due to low cost of manufacturing including cheap labour. For eg in recent years India and China have emerged as manufacturing hub for many tech sector companies due to their low cost of technology. For instance, IBM outsources manufacturing of it subparts to Chinese firms and then later assembles the final product in US

ii. Management Contract:

It is an arrangement between two companies from two countries where one company agrees to provide managerial, technical, personnel and operational services for the agreed period in return for fees.

aku aku aku. Turn Key Project:

Turnkey refers to sum service or facility that is ready to use by just turning the key. In this arrangement, the owner of the plant assigns the task of building industrial plants / unit from scratch to the final operational stage for a fee. The person / entity so hired is responsible for designing, constructing and then also training the staff to carry out the transfer of its technology or other processes to another company.

Depending upon the extent and the stage of completion of the project, these projects can be of following types:

Sebuah. BOT, Built owned and transfer

b. BOLT, Built owned leased and transfer

c. BOOT, Built owned operate and transfer

5. Foreign Direct Investment:

When a company decides to relocate its production, marketing and other operational services in another country then, such an operation is known as Foreign Direct Investment (FDI). It can do so either through Green field investments – establishing all together new entity by setting up new plant, creating productive capacities and also substantiating investments through transfer of knowledge and technical knowhow.

Brown field investments- when equity state is bought in an already established entity, meanwhile investing in capital, technology and other resources of such an enterprise. It comes in the form of joint venture between two corporate entities, institutions or even Government organizations. The intent behind joint venture is to capitalize on the synergies between two entities.

However, before foraying in the international markets, the entrepreneur should carefully assess the ownership advantages, locational benefits and the process through which he wish to internationalize. This assessment is paramount for the success of the entrepreneurial venture.

V. Ecopreneurship :

The adoption of environmentally responsible and sustainable business practices while launching and operating an enterprise is called ecopreneurship. Ecopreneurship is seen as an offshoot of Social Entrepneurship only, which among various societal problem, specifically looks after ecological problems.

Ecopreneurship or green management or environmental entrepreneurship as it may be alternatively known, is a comparatively new and under researched concept. It derives its root from the integration of entrepreneurship and environmental business management.

Hence when an Entrepreneurship venture is being carried out while maintaining sustainable development at the core of all the activities, then it becomes an ecopreneurship.

As per the OECD definition, sustainable development means a, “development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs”.

The entrepreneurs who conceptualize, organize and run these kinds of entities are known as ecopreneurs. In the book Merging Economic and Environmental Concerns through Ecopreneurship, written by Gwyn Schuyler in 1998, ecopreneurs are defined as follows –

“Ecopreneurs are entrepreneurs whose business efforts are not only driven by profit, but also by a concern for the environment. Ecopreneurship, also known as environmental entrepreneurship and eco-capitalism, is becoming more widespread as a new market- based approach to identifying opportunities for improving environmental quality and capitalizing upon them in the private sector for profit.”

Through Ecopreneurship those products or services are offered, that do not harm environment or it makes use of those technology/processes or business practices/policies that are environment friendly and sustainable. Ecopreneurship while developing sustainable business frameworks also offers opportunities for business to create new products/services/processes using innovative means.

Depleting natural resources and mounting environmental problems like pollution, dwindling water reservoirs, endangered flora and fauna, ever growing effect of greenhouse gases, have underlined the impressing need to address these issues at the grass root level.

Though some efforts to control, mitigate and reverse the process of environmental degradation has been already started by large and small organizations alike in various parts of the world.

Sustainable and environment friendly practices like earning carbon credit for reducing pollution, Triple bottom line accounting- integrating social and environmental benefits with the accounting profits, cradle to cradle approach for product design- minimizing product waste and carving an environment friendly disposable product, System thinking- studying the effect of a problem on society, environment along with the organization, have already found their ways in various organization.

Global Corporation like Munich Reinsurance Group, IBM, IKEA, British Telecom, Hewlett Packard, Philips Electronics, Johnson and Johnson, Nike, yahoo and Dell employ sustainable business practices and processes.

Closer home, even in India, various ecopreneurial ventures have undertaken to solve ecological problems by providing innovative solutions.

Underlining the need of the hour, even our Honorable Prime Minister Shri Narendra Modi has launched his flagship Program of 'Swachh Bharat Abhiyan'. It is a campaign by Government of India to clean the streets, roads and infrastructure of the country's 4041 statutory cities and towns. It is India's largest cleanliness drive ever, with 3 million Government employees and especially school and college students from all parts of India, participating in this campaign.

VI. Culture Entrepreneurship :

It is the practice of creative and innovative business practices by enterprises including startups in the culture and creative industry. Culture Entrepreneurship while offering varied expressions of different artistic forms, enables an entrepreneurial activity to be profitable as well as sustainable.

Different art forms like dance music, painting and architecture creative designing, have held the imaginations of human race since the time immemorial. But for very long, artists survived and later earned the fame through their own capital without much recourse to public funding.

As culture and society progressed and developed in-depth interest towards growing forms of art, an impressing need was felt to make these expressions wide spread and everlasting. Through culture entrepreneurship, the world of art gets united with the commercial world. This union paves the way for proliferation of art throughout the world, making culture industry a lucrative one. Culture entrepreneurship has led many artists to become entrepreneurs or to support artist, so that the art form can be brought in the main frame.

When the celebrated and iconic entrepreneur, Walt Disney innovated cartoon characters like Mickey Mouse and Donald Duck on the big screen, the film industry entered the new pedestal of animation. It was the entrepreneurial vigor of Walt Disney, which rewrote the culture of watching movies especially with cartoon characters. Movies like Cinderella, Pinocchio, Sleeping beauty, Alice in the Wonderland are still able to hold the viewers by awe.

It is through culture entrepreneurship only that today we marvel, astonish, relish and praise artistic expressions in various forms of art. Some of the world's most iconic monuments like Taj Mahal, Eiffel Towers, Statue of Liberty etc. have been the fruits of culture entrepreneurship, offering a treat to human ingenuity and excellence.

Today we witness umpteen example of culturally enriched and equally amusing master pieces around the world, thanks to culture Entrepreneurship. For eg museum of Madam Tussad (London, Hongkong, and now in India also), Opera House (Australia), Burj Khalifa (Dubai), Petronas towers (Malaysia) are all example of sustainable and lucrative business propositions capturing the human marvel around the world.

Various musical forms like classical, pop, karnatic, western and dance forms like Salsa, Zumba, contemporary, classical etc. have penetrated down to households through culture entrepreneurship only.

Around the world, yet investments in the culture entrepreneurial venture is done with skepticism as the success depends upon the taste/flavor of consumers/audience. Consumers/audience taste can be very unpredictable and erratic, making the entrepreneurs shriek at the first go.

However, high tech technology has opened the flood gates for experimentation as well as commercialization of culture gully by adding multiple new dimensions in tech enabled fields like gaming, animation, publishing, comics etc.

Mostly Culture Entrepreneurship thrives on the shoulders of individuals due to lack of Governmental and institutional support. Now, it is high time that venture capitalist as well as angel investors look beyond high-tech and e-tailing sectors to proliferate the culture industry to its true potential.

VII. Social Entrepreneurship or Creative Response to Social Problems by Entrepreneurship :

It is the practice of solving social, cultural and environmental problems with viable and innovative business ideas while employing business principles and practices. Social business was first defined by Nobel Peace Prize laureate Prof. Muhammad Yunus in his book 'Creating a world without poverty' as businesses, “that are created and designed to address a social problem, it is a non-loss non-dividend company” ie, it has financial sustainability and its profits are reinvested in the business itself.

Social enterprises are those businesses that are run by individuals whose goal is to create and sustain social value. Social enterprises' main cause of existence is serving to the society while being economically and financially successful and growing.

Social entrepreneurship finds its way in organization of all types, size and industry underlining the prime belief that business can exist and thrive only with the presence and approval of the society. The callous and profit orientation of business over the several decades, has led to creation as well as accumulation of problems like pollution, unemployment, indifference to elders, oppression and neglect of children, atrocities towards women and so on.

Through social entrepreneurship, an entrepreneur contributes to the society by figuring out eco-friendly and human friendly solutions to these kinds of pertinent issues in the society. Many a times social enterprise forges a relationship of trust between Government, business and civil society by making business much more empathetic and conscious toward its own actions as well as towards society.

For eg Mohammed Yunus Khan, a Bangladeshi social entrepreneur was awarded the Nobel Peace Prize in 2006 for founding the Grameen Bank and pioneering the concepts of microcredit and microfinance. Yunus along with Grameen banks' network have shown that even the poorest of poor people can be brought in the mainstream by arming them with the right financial aid and education.

Social enterprises can be structured as non-profit or for profit entities having volunteers as well as executives even from Fortune 500 companies, who capitalize their business acumen and experience to solve social problems in an entrepreneurial fashion.

The business philosophy of social enterprise may involve three things primarily:

1. The extent and the manner in which it produces goods and services,

2. The extent to which it defines its raison de etrer, ie the motive for existence and the way it accomplishes it, and

3. To extent to which it democratically shares human, financial and social capital among various stake holders.

In India, a social enterprise may be a registered as a Non-Governmental Organization (NGO), incorporated either as a Society under Indian Societies Registration Act, 1860 or as a Trust registered under various Indian State Trust Acts or a Section 8 Company under Companies Act 2013.

In some of the countries like UK, Italy, Korea and Singapore, the agenda for social enterprise is being largely driven by Government and large private enterprises (especially Korea), however in India, journey into the world of social entrepreneurship has been primarily led by the vision and enthusiasm of remarkable individuals.

In India, examples of social enterprises include some of the noted entities like Redcross, CRY (Child care and You), Helpage India as well as newer ones like, Husk Power system (installed 60 mini-power plants that power Rs.25, 000 households in more than 250 villages and impact lives of approximately 150, 000 people in rural India.), ITC-echoupals (in 2011 there were 6, 500 e-Choupal installations reaching 4 million farmers across 40, 000 villages in 10 states), Eko Financial services (served nearly a million customers through its network of 1, 300+ retail outlets across three states) and the number is still growing.

Benefits of Social Entrepreneurship :

It has been demonstrated through research that, with the help of social entrepreneurship, following benefits can be obtained:

1. As social enterprises are primarily driven by the motive of creating welfare, they plough back larger part of their profits back in business, thus promoting capital formation and economic development in a country.

2. By facilitating means of livelihood, these enterprises also nurture self-confidence and self-esteem among the downtrodden local people.

3. Through innovation and experimentation, it fills the gaps in existing economic system and services that cannot or will not be delivered by the public and private sectors.

4. Various outreach programme encompassing training and employment, create opportunities for socially deprived people to learn, earn and come in the mainstream.


 

Tinggalkan Komentar Anda