Teori Kewirausahaan

Semua yang perlu Anda ketahui tentang teori kewirausahaan. Adalah fakta universal bahwa kewirausahaan merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi.

Pengusaha adalah penanggung risiko dan bekerja di bawah ketidakpastian. Tetapi tidak ada upaya yang dilakukan oleh para ekonom untuk merumuskan teori kewirausahaan yang sistematis.

Menurut William J. Baumol, teori ekonomi telah gagal memberikan analisis yang memuaskan tentang peran kewirausahaan atau penawarannya.

Namun, asumsi teoretis yang berbeda tentang kewirausahaan fokus pada tiga aspek utama kewirausahaan. Ketiga aspek ini adalah sifat peluang, sifat wirausaha, dan sifat kerangka pengambilan keputusan di mana seorang wirausahawan berfungsi. Ketiga aspek ini memunculkan dua teori kewirausahaan yang logis dan konsisten, yaitu, teori penemuan dan teori kreatif.

Beberapa teori kewirausahaan adalah: -

1. Teori Inovasi 2. Teori Pencapaian Kebutuhan 3. Teori Penarikan Status 4. Teori Perubahan Sosial 5. Teori Perilaku Sosial 6. Teori Kepemimpinan

7. Teori Model Kepribadian 8. Teori Inovasi Sistematis 9. Teori Penciptaan 10. Teori Psikologis 11. Teori Sosiologis 12. Teori Ekonomi 13. Teori Budaya.


Teori Kewirausahaan: Teori Budaya, Teori Ekonomi, Teori Sosiologis dan Teori Psikologis

Teori Kewirausahaan - 8 Teori Utama dengan Evaluasi Kritis

Adalah fakta universal bahwa kewirausahaan merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi. Pengusaha adalah penanggung risiko dan bekerja di bawah ketidakpastian. Tetapi tidak ada upaya yang dilakukan oleh para ekonom untuk merumuskan teori kewirausahaan yang sistematis. Menurut William J. Baumol, teori ekonomi telah gagal memberikan analisis yang memuaskan tentang peran kewirausahaan atau penawarannya.

Gagasan tradisional tentang wirausahawan adalah bahwa ia menyatukan input faktor dan mengatur kegiatan produktif. Model tradisional memperlakukan fungsi kewirausahaan seperti fungsi manajerial.

Demikian pula, dalam teori pertumbuhan modern juga, setiap kontribusi kewirausahaan biasanya terkandung dalam faktor residual. Sisa ini, beragam disebut sebagai 'perubahan teknis' atau 'koefisien ketidaktahuan'. Ini mencakup antara lain, teknologi, pendidikan, organisasi kelembagaan dan kewirausahaan.

Pemikir yang berbeda telah mengembangkan teori kewirausahaan yang berbeda.

Fitur yang menonjol dari teori-teori ini adalah sebagai berikut:

Teori # 1. Teori Inovasi :

Teori ini dikemukakan oleh JA Schumpeter. Menurut Schumpeter, wirausahawan pada dasarnya adalah inovator dan inovator adalah orang yang memperkenalkan kombinasi baru.

Dalam praktiknya, teori kombinasi baru mencakup lima kasus yang diberikan di bawah ini:

(i) Pengenalan barang baru yang konsumen, belum kenal — atau kualitas barang baru.

(ii) Pengenalan metode produksi baru, yang belum diuji oleh pengalaman di cabang manufaktur yang bersangkutan, yang tidak perlu didasarkan pada penemuan yang secara ilmiah baru dan juga dapat ada dengan cara baru menangani komoditas. secara komersial.

(iii) Pembukaan pasar baru yaitu pasar di mana cabang manufaktur tertentu dari negara tersebut belum masuk sebelumnya, apakah pasar ini sudah ada sebelumnya atau belum.

(iv) Penaklukan sumber pasokan baru bahan baku atau setengah barang jadi, terlepas dari apakah sumber ini sudah ada atau sudah dibuat.

(v) Pelaksanaan organisasi baru dari industri apa pun seperti penciptaan posisi monopoli (misalnya, melalui kepercayaan) atau pemecahan posisi monopoli.

Evaluasi Kritis:

Dalam teori Schumpeter, tema utamanya adalah inovasi. Dia membuat perbedaan antara inovator dan penemu. Menurutnya, seorang penemu menemukan metode baru dan material baru. Tapi, seorang inovator adalah orang yang menerapkan penemuan dan penemuan untuk membuat kombinasi sekarang. Dengan bantuan kombinasi baru ini, ia menghasilkan barang yang lebih baru dan lebih baik yang menghasilkan kepuasan serta keuntungan.

Dalam proses pembangunan ekonomi, pengusaha telah diberi peran penting sehingga tempo pertumbuhan dipertahankan secara efektif. Pengembangan membutuhkan perubahan mendasar dan pengusaha melakukan perubahan yang diperlukan. Dengan demikian, pengembangan kewirausahaan membawa pembangunan ekonomi.

Konsep kewirausahaan Schumpeter berbasis cukup luas. Kewirausahaan mencakup tidak hanya para pelaku bisnis independen tetapi juga para eksekutif dan manajer yang benar-benar menjalankan fungsi-fungsi inovatif.

Namun, teori Schumpeter menderita keterbatasan berikut:

(i) Tidak termasuk individu yang hanya menjalankan bisnis mapan tanpa melakukan fungsi inovatif.

(ii) Pengusaha inovatif mewakili jenis usaha yang paling kuat. Namun, wirausaha jenis ini jarang tersedia di negara berkembang seperti India.

(iii) Terlalu menekankan fungsi inovatif. Tetapi mengabaikan risiko mengambil dan mengatur aspek kewirausahaan.

(iv) Mengasumsikan wirausaha sebagai pebisnis berskala besar. Dia adalah orang yang menciptakan sesuatu yang baru. Namun dalam praktiknya, seorang wirausahawan tidak dapat memiliki operasi skala besar sejak awal,

(v) Gagal memberikan jawaban yang cocok untuk pertanyaan seperti — mengapa beberapa negara memiliki talenta kewirausahaan lebih dari yang lain?

Menurut Schumpeter, wirausahawan bukanlah kelas seperti kapitalis dan pekerja. Seorang individu adalah seorang wirausahawan hanya ketika ia benar-benar melakukan kombinasi baru dan berhenti menjadi wirausaha saat ia mulai menjalankan bisnis yang sudah mapan.

Menurut Schumpeter, seorang wirausaha hanya ada jika faktor-faktor produksi digabungkan untuk pertama kalinya. Pemeliharaan kombinasi bukanlah kegiatan wirausaha. Dengan cara ini, teori kombinasi berbeda dari teori sewa yang dirumuskan oleh Ricardo. Ricardo memasukkan istilah "kemampuan wirausaha" sebagai faktor independen dari produksi dan berkaitan dengan keuntungan. Dengan demikian, teori ini gagal memberikan solusi yang sesuai untuk masalah tersebut.

Teori # 2. Kebutuhan akan Teori Prestasi :

Teori ini dikembangkan oleh David. C. McClelland. McClelland prihatin dengan pertumbuhan ekonomi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam konteks ini, ia mencoba untuk menemukan faktor-faktor internal yaitu "nilai-nilai manusia dan motif yang mengarahkan manusia untuk mengeksploitasi peluang, untuk mengambil keuntungan dari kondisi perdagangan yang menguntungkan." Itulah sebabnya ia memberikan pentingnya karakteristik inovatif peran wirausaha. Pengusaha mementingkan kebutuhan akan prestasi (n-achievement).

Prestasi-n disebut sebagai "keinginan untuk melakukan dengan baik, bukan karena pengakuan sosial atau prestise, tetapi demi perasaan batin akan pencapaian pribadi."

Motif pencapaian-n inilah yang memandu tindakan wirausaha. Orang-orang dengan prestasi n tinggi berperilaku wirausaha. Jadi lebih baik untuk mengembangkan prestasi-n di antara individu untuk memastikan skala tinggi pembangunan ekonomi. Dalam praktiknya, motif n-prestasi ditanamkan melalui praktik pengasuhan anak, yang menekankan standar keunggulan, kehangatan materi, kemandirian, pelatihan, dan dominasi ayah rendah.

McClelland mengidentifikasi dua karakteristik kewirausahaan. Pertama melakukan hal-hal dengan cara yang baru dan lebih baik. Kedua, pengambilan keputusan di bawah ketidakpastian.

Motif ini disebut sebagai kecenderungan untuk berjuang untuk sukses dalam situasi yang melibatkan evaluasi kinerja seseorang dalam kaitannya dengan beberapa standar keunggulan. Orang yang memiliki kebutuhan tinggi untuk berprestasi lebih cenderung berhasil sebagai pengusaha.

Menurut McClelland, individu dengan pencapaian kebutuhan tinggi tidak akan termotivasi oleh insentif moneter tetapi bahwa imbalan moneter akan menjadi simbol prestasi bagi mereka. Demikian pula, mereka juga tidak tertarik banyak untuk pengakuan sosial atau prestise tetapi tujuan akhir mereka adalah pencapaian pribadi. Itulah sebabnya McClelland menyarankan agar untuk meningkatkan tingkat motivasi berprestasi, orang tua harus menetapkan standar tinggi untuk anak-anak mereka.

Evaluasi Kritis:

Studi penelitian tentang akar psikologis kewirausahaan mengungkapkan bahwa orientasi prestasi tinggi memastikan keberhasilan wirausaha. Tetapi alat konsep empiris yang digunakan oleh McClelland ditemukan sangat mencurigakan dan orang bertanya-tanya berapa banyak orang yang dinilai memiliki prestasi n tinggi dapat berhasil menggunakannya dalam praktik di negara-negara berkembang saat ini kecuali diperkuat oleh penguatan lainnya. keadaan.

Pada saat yang sama, penyelidikan empiris juga membutuhkan yang berikut:

(i) Penting untuk menciptakan iklim (terutama di lembaga pendidikan di berbagai tingkatan) untuk memungkinkan anak-anak tumbuh menjadi individu dengan prestasi n tinggi.

(ii) Dimungkinkan untuk meningkatkan kinerja pengusaha yang ada melalui pemberian pelatihan dan pendidikan yang tepat.

Teori # 3. Teori Penarikan Status :

E. Hagen berusaha merumuskan teori perubahan sosial. Teori perubahan sosial menjelaskan bahwa ketika anggota beberapa kelompok sosial merasa bahwa nilai-nilai dan status mereka tidak dihormati oleh masyarakat, mereka beralih ke inovasi untuk mendapatkan rasa hormat dari masyarakat. Menurut Hagen, kewirausahaan adalah fungsi penarikan status. Teori ini menyatakan bahwa kelas yang kehilangan prestise sebelumnya atau kelompok minoritas cenderung menunjukkan dorongan kewirausahaan yang agresif.

Hagen mendalilkan empat jenis peristiwa yang dapat menghasilkan penarikan status:

(i) Pemindahan kelompok elit tradisional dari status sebelumnya oleh kelompok tradisional lain dengan kekuatan fisik.

(ii) Pengingkaran nilai, simbol melalui beberapa perubahan dalam sikap kelompok superior.

(iii) Inkonsistensi simbol statis dengan perubahan distribusi kekuatan ekonomi dan.

(iv) Tidak diterimanya status yang diharapkan tentang migrasi ke masyarakat baru.

Hagen lebih lanjut berpendapat bahwa inovasi atau perubahan kreatif adalah fitur dasar dari pertumbuhan ekonomi. Dia menggambarkan seorang pengusaha sebagai penembak masalah kreatif yang tertarik pada hal-hal di bidang praktis dan teknologi. Tipe individu seperti itu merasakan peningkatan kenikmatan ketika menghadapi masalah dan mentolerir gangguan tanpa rasa tidak nyaman.

Dalam masyarakat tradisional, posisi otoritas diberikan berdasarkan status, bukan kemampuan individu. Itulah sebabnya, Hagen memvisualisasikan kepribadian yang inovatif.

Ada empat respons yang menilai kepribadian-

(i) Retretis - Orang yang bergabung untuk bekerja di masyarakat tetapi tetap tidak peduli dengan pekerjaan dan posisinya.

(ii) Ritualis - Orang yang mengadopsi semacam perilaku defensif dan bertindak dengan cara yang diterima dan disetujui dalam masyarakatnya tetapi tanpa harapan memperbaiki posisinya.

(iii) Reformis - Orang yang mengobarkan pemberontakan dan berupaya membangun masyarakat baru?

(iv) Inovator - Seorang individu kreatif yang cenderung menjadi wirausaha.

Inovasi membutuhkan kreativitas dan individu-individu kreatif semacam itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi. Dalam praktiknya, kepribadian kreatif muncul ketika anggota beberapa kelompok sosial mengalami penarikan status hormat. Setiap kali ada penarikan status hormat, itu akan menimbulkan inovasi - individu yang kreatif yang cenderung menjadi pengusaha.

Evaluasi Kritis:

Teori ini bertindak untuk membedakan antara kewirausahaan dan intra-preneurship. Ada berbagai faktor dalam organisasi yang memotivasi eksekutif dan profesional untuk melakukan perilaku inovatif yang mengarah pada produk dan layanan baru. Sebenarnya, mereka tidak diatur oleh penarikan status.

Teori ini hanya menunjukkan bahwa orang-orang, yang telah menikmati kedudukan sosial pada tahap tertentu dalam sejarah mereka jatuh ke dalam fase retret dan dengan keinginan untuk mendapatkan kembali status yang hilang muncul sebagai kepribadian wirausaha. Teori ini juga mengandaikan perspektif jangka panjang untuk pertumbuhan wirausaha sekitar tiga hingga lima generasi untuk munculnya kewirausahaan.

Namun sebenarnya itu tidak terjadi. Di India, wirausahawan generasi pertama cukup sukses dalam perilaku wirausaha mereka. JP Gour dari Jai Prakash Industries dan Sunil Mittal dari grup Bharti dll. Dapat dikutip dalam konteks ini.

Teori # 4. Teori Perubahan Sosial :

Max Weber-lah yang pertama-tama mengambil pendirian bahwa pertumbuhan kewirausahaan bergantung pada sistem nilai etis masyarakat yang bersangkutan. Tokoh sentral dari teori perubahan sosial Weber terdiri dari perlakuannya terhadap etika Protestan dan semangat kapitalisme. Selain itu, teori ini memberikan analisis agama dan dampaknya terhadap budaya kewirausahaan.

Max Weber berpendapat bahwa semangat pertumbuhan industri yang cepat bergantung pada teknologi yang dirasionalisasi, perolehan uang, dan penggunaan rasionalnya untuk produktivitas dan penggandaan uang. Unsur-unsur pertumbuhan industri ini bergantung pada orientasi nilai individu yang spesifik, yaitu kecenderungan akuisisi dan sikap rasional terhadap tindakan yang dihasilkan oleh nilai-nilai etis.

Weber menganalisis rumusan teoretisnya oleh hubungan yang ia temukan antara etika Protestan dan semangat kapitalisme. Dia menemukan tesisnya benar tentang komunitas lain juga, misalnya Hindu, Jain dan Yuda. Dia berpendapat bahwa kaum Protestan berkembang pesat dalam membawa kapitalisme karena sistem nilai etika mereka memberi mereka sikap ekonomi yang rasional, sementara orang-orang Yahudi dan Jain gagal mengembangkan kapitalisme industri karena nilai mereka 'Pariha' (pembatasan memiliki hubungan dengan komunitas lain) .

Menurut teori ini, menggerakkan energi wirausaha dihasilkan oleh adopsi kepercayaan agama yang disediakan secara eksogen. Keyakinan inilah yang menghasilkan pengerahan tenaga intensif dalam penganiayaan pekerjaan, pemesanan sistematis cara untuk mencapai tujuan dan akumulasi aset.

Bagi orang-orang yang percaya pada kepercayaan ini (etika Protestan) kerja keras dalam perjalanan hidup mereka tidak hanya untuk memungkinkan mereka untuk memenuhi keinginan duniawi mereka tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka. Dengan demikian, dalam sistem Weberian, kekuatan pendorong untuk kegiatan wirausaha disediakan oleh etika Calvinis terlepas dari latar belakang budaya, tipe kepribadian individu dan lingkungan sosial tempat ia tinggal.

Evaluasi Kritis:

Teori perubahan sosial yang dikemukakan oleh Max Weber didasarkan pada asumsi yang tidak valid. Jadi hasil yang diharapkan tidak valid dalam semua kasus.

Asumsi-asumsi ini adalah sebagai berikut:

(i) Ada satu sistem nilai Hindu.

(ii) Komunitas India menginternalisasi nilai-nilai itu dan menerjemahkannya ke dalam perilaku sehari-hari dan

(iii) Nilai-nilai ini tetap kebal dan terisolasi terhadap tekanan dan perubahan eksternal. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa Hinduisme tidak menentang semangat kapitalisme dan semangat petualangan. Agama Hindu telah banyak berkontribusi dalam pengembangan kewirausahaan di India yang didasarkan pada kapitalisme.

Teori # 5. Teori Perilaku Sosial :

Kunkel menyajikan model perilaku kewirausahaan. Pasokan pengusaha adalah fungsi dari struktur sosial, politik dan ekonomi. Model perilaku berkaitan dengan aktivitas individu yang diekspresikan secara terbuka dan hubungannya dengan lingkungan, struktur sosial, dan kondisi fisik sebelumnya dan saat ini.

Menurut Kunkel, Individu melakukan berbagai kegiatan yang beberapa diterima oleh masyarakat sementara yang lain tidak. Yang diterima diberi ganjaran. Imbalan bertindak sebagai penguat stimulus yang meningkatkan kemungkinan mengulangi pola perilaku itu. Pola perilaku sosial ini adalah perilaku kewirausahaan. Pasokan kewirausahaan tergantung pada empat struktur yang ditemukan dalam masyarakat.

Itu adalah sebagai berikut:

(i) Struktur Batasan - Masyarakat membatasi kegiatan tertentu dan struktur batasan ini mempengaruhi semua anggota (termasuk pengusaha) suatu masyarakat.

(ii) Struktur Permintaan - Imbalan material diperlukan untuk meletakkan dasar bagi pencapaian sosial di masa depan. Selain itu, perilaku orang dapat dibuat wirausaha dengan memanipulasi komponen tertentu yang dipilih dari struktur permintaan.

(iii) Struktur Peluang - Ini terdiri dari ketersediaan modal, keterampilan manajemen dan teknologi, informasi mengenai metode produksi, tenaga kerja dan pasar.

(iv) Struktur Tenaga Kerja - Ini terkait dengan pasokan tenaga kerja yang kompeten dan mau. Pasokan tenaga kerja diatur oleh beberapa faktor seperti sarana mata pencaharian alternatif yang tersedia, tradisionalisme, dan harapan hidup.

Evaluasi Kritis:

Teori ini mengasumsikan struktur ideal untuk pasokan pengusaha. Tetapi, secara umum, ada perbedaan antara tujuan, struktur dan kejadian aktual dari pengusaha. Hal ini disebabkan oleh adanya persepsi yang tidak memadai atau tidak benar yang melekat pada persepsi ini. Dalam praktiknya, kewirausahaan juga diatur oleh kombinasi keadaan tertentu yang umumnya tidak tersedia di lingkungan.

Teori # 6. Teori Kepemimpinan :

Menurut Hoselitz, kewirausahaan adalah fungsi dari keterampilan manajerial dan kepemimpinan. Bisnis juga membutuhkan keuangan tetapi itu adalah kepentingan sekunder. Dia lebih lanjut menjelaskan bahwa seseorang yang ingin menjadi pengusaha industri harus memiliki lebih dari dorongan untuk mendapatkan keuntungan dan mengumpulkan kekayaan.

Dalam proses ini, ia harus menunjukkan kemampuannya untuk memimpin dan mengelola. Dalam bisnis, umumnya ada tiga jenis kepemimpinan — pemberi pinjaman pedagang uang, manajer dan pengusaha. Dalam praktiknya, pemberi pinjaman uang berorientasi pasar dan manajer berorientasi pada otoritas. Tetapi pengusaha memiliki orientasi produksi.

Pemberi pinjaman uang pedagang berurusan dengan barang / jasa yang umumnya dapat diterima semua orang. Namun, seorang pengusaha menciptakan komoditasnya sendiri dan penerimaannya tidak pasti. Oleh karena itu, wirausahawan menanggung lebih banyak risiko dibandingkan dengan pedagang atau pemberi pinjaman uang.

Dalam konteks ini, penting untuk dicatat bahwa menghasilkan laba tidak cukup untuk berhasil dalam kewirausahaan. Hoselitz berpendapat bahwa kewirausahaan dapat berkembang dalam masyarakat di mana budayanya memungkinkan berbagai pilihan dan di mana proses sosial tidak kaku. Kondisi sosial harus memastikan pengembangan kepribadian yang berorientasi pada perusahaan.

Hoselitz menekankan peran kelompok marginal budaya seperti Yahudi dan Yunani di Eropa Abad Pertengahan dan Libanon di Afrika Barat, Cina di Asia Selatan, India di Afrika Barat dalam mempromosikan pembangunan ekonomi.

Memanfaatkan karya Stonequist dan Park, Hoselitz merumuskan hipotesis bahwa laki-laki marjinal, karena posisi ambigu mereka dari sudut pandang budaya atau sosial, secara khusus cocok untuk membuat penyesuaian kreatif dalam situasi perubahan dan dalam proses penyesuaian ini. juga, mereka mampu mengembangkan inovasi asli dalam perilaku sosial.

Evaluasi Kritis:

Memang benar bahwa laki-laki atau kelompok marjinal menikmati budaya dan posisi sosial yang ambigu yang tidak memiliki ikatan tradisi untuk menghalangi mereka dari pengembangan kewirausahaan. Tetapi ada beberapa faktor ekonomi dan politik tertentu yang mendorong orang untuk memprakarsai perilaku kewirausahaan.

Misalnya, Pemerintah India dan Pemerintah Negara Bagian berusaha untuk mendorong wirausahawan generasi pertama dengan menawarkan berbagai jenis insentif dan subsidi. Pengusaha potensial juga memilih untuk pengembangan usaha tanpa ngeri untuk pembatasan sosial atau budaya.

Teori # 7. Teori Model Personality :

Teori Cocharn adalah teori sosiologis penawaran kewirausahaan. Cocharn menekankan nilai-nilai budaya, harapan peran dan sanksi sosial sebagai elemen kunci yang menentukan pasokan wirausaha. Menurutnya, seorang wirausahawan bukanlah individu super normal atau orang yang menyimpang tetapi mewakili model kepribadian masyarakat.

Penampilannya dipengaruhi oleh tiga faktor:

(i) Sikapnya sendiri terhadap pekerjaannya.

(ii) Peran harapan yang dipegang oleh kelompok sanksi dan

(iii) Persyaratan operasional pekerjaan. Dalam konteks ini, nilai-nilai masyarakat adalah penentu terpenting dari sikap dan harapan peran.

Evaluasi Kritis:

Teori ini hanya membahas faktor sosial. Laba adalah faktor terpenting untuk mendorong wirausahawan untuk mengambil perilaku berisiko. Bahkan kebutuhan akan prestasi dimulai dari proses mencari untung. Ini tersirat dalam kebutuhan akan proses pencapaian. Selain itu, pengusaha juga diharapkan untuk mengambil alih fungsi manajerial. Tetapi teori gagal untuk memasukkan semua persyaratan ini.

Teori # 8. Teori Inovasi Sistematis :

Prof. Drucker telah mengembangkan teori inovasi sistematis. Menurutnya “Inovasi sistematis terdiri dari pencarian perubahan yang terarah dan terorganisir dan dalam analisis sistematis peluang yang mungkin ditawarkan oleh perubahan tersebut untuk inovasi ekonomi atau sosial.” Secara khusus, inovasi sistematis berarti tujuh sumber untuk peluang inovatif.

Empat sumber pertama berada di dalam perusahaan, baik bisnis atau institusi layanan publik, atau di dalam industri atau sektor jasa. Karena itu mereka terlihat terutama oleh orang-orang di dalam industri atau sektor jasa tersebut. Mereka pada dasarnya adalah gejala. Tetapi mereka adalah indikator perubahan yang sangat andal yang telah terjadi atau dapat dibuat terjadi dengan sedikit usaha.

Empat area sumber ini adalah:

(i) Yang tak terduga — kesuksesan yang tak terduga, kegagalan yang tak terduga, kejadian luar yang tak terduga;

(ii) Ketidaksesuaian - antara kenyataan sebagaimana adanya dan kenyataan seperti yang diasumsikan atau sebagaimana mestinya;

(iii) Inovasi berdasarkan kebutuhan proses;

(iv) Perubahan dalam struktur industri atau struktur pasar yang menangkap setiap orang tanpa disadari.

Set kedua sumber untuk peluang inovatif, satu set tiga melibatkan perubahan di luar perusahaan industri-

(i) Demografi (Perubahan populasi);

(ii) Perubahan dalam persepsi, suasana hati dan makna;

(iii) Pengetahuan baru, baik ilmiah dan non-ilmiah.

Drucker, lebih lanjut mengatakan bahwa garis antara ketujuh sumber area peluang inovatif ini kabur, dan ada banyak tumpang tindih di antara keduanya. Mereka dapat disamakan dengan tujuh jendela masing-masing di sisi berbeda dari gedung yang sama. Setiap jendela menunjukkan beberapa fitur yang juga dapat dilihat dari jendela di kedua sisinya. Tetapi pemandangan dari pusat masing-masing berbeda dan berbeda.

Evaluasi Kritis:

Teori inovasi sistematis cukup komprehensif. Pengusaha diminta untuk mengidentifikasi berbagai sumber perubahan. Setelah itu, ia diharapkan untuk mengoordinasikan perubahan-perubahan ini dengan peluang yang tersedia di lingkungan. Tetapi masalah yang paling penting yang dikaitkan dengan teori ini adalah pertanyaan tentang keandalan dan kepastian dari tujuh sumber.

Misalnya, pengetahuan ilmiah baru bukanlah sumber inovasi sukses yang paling dapat diandalkan atau paling dapat diprediksi. Namun teori mencoba memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk kewirausahaan.

Dengan demikian, berdasarkan teori-teori di atas, kita dapat mengatakan bahwa kewirausahaan adalah bidang multidisiplin. Sebenarnya, kewirausahaan diatur oleh faktor manusia yang hidup dalam masyarakat yang terus berubah mengejar tujuan ekonomi, sosial dan psikologis secara bersamaan. Jadi kecuali jika teori kewirausahaan dijalin menjadi serat sosiologis, budaya, psikologis, politik dan manajerial, itu tidak dapat memberikan rasa jaring ekonomi.


Teori Kewirausahaan - 2 Teori Utama: Teori Penemuan dan Teori Penciptaan (Dengan Asumsi)

Terlepas dari beberapa upaya yang dilakukan oleh berbagai sarjana, tidak ada teori kewirausahaan yang diterima secara umum. Ada berbagai teori kewirausahaan, berdasarkan asumsi berbagai pakar manajemen. Dalam kata-kata Gartner, "Kita di bidang kewirausahaan tidak menyadari asumsi yang kita buat, dalam perspektif teoretis kita."

Namun, asumsi teoretis yang berbeda tentang kewirausahaan fokus pada tiga aspek utama kewirausahaan. Ketiga aspek ini adalah sifat peluang, sifat wirausaha, dan sifat kerangka pengambilan keputusan di mana seorang wirausahawan berfungsi. Ketiga aspek ini memunculkan dua teori kewirausahaan yang logis dan konsisten, yaitu, teori penemuan dan teori kreatif.

Dua teori kewirausahaan adalah sebagai berikut:

1. Teori Penemuan:

Ini mencakup pandangan nexus Individu / Peluang (I / O), yang menekankan pada identifikasi, keberadaan, dan eksploitasi peluang dan pengaruh mereka terhadap individu. Individu dan peluang memiliki pengaruh satu sama lain. Sebagai contoh, sebuah peluang muncul hanya ketika seorang individu mengidentifikasinya, secara bersamaan seorang individu mengambil aktivitas kewirausahaan karena peluang yang ada.

Teori ini mendekati tiga asumsi dalam kewirausahaan, yaitu sebagai berikut:

Sebuah. Peluang memiliki komponen objektif dan keberadaannya tidak tergantung pada apakah individu mengidentifikasi peluang ini atau tidak.

b. Setiap individu berbeda dari yang lain. Oleh karena itu, individu yang berbeda memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengenali peluang. Selain itu, menurut teori penemuan, individu selalu waspada terhadap peluang yang ada dan kewaspadaan ini bukan pencarian yang disengaja, tetapi pemindaian konstan lingkungan oleh individu.

c. Pengambilan risiko adalah bagian penting dari proses kewirausahaan. Asumsi pertama dan kedua dari teori penemuan juga mendukung kondisi risiko kewirausahaan. Sesuai dengan dua asumsi ini, individu hanya dapat menemukan dan memanfaatkan peluang, tetapi tidak dapat menciptakan peluang. Mereka menerapkan kombinasi sumber daya yang unik, artinya mereka melakukan berbagai hal secara berbeda untuk menghadirkan inovasi.

Karena tidak ada kepastian tentang keberhasilan peluang yang ditemukan, pengusaha menanggung risiko dengan memanfaatkan peluang pada perkiraan probabilitas keberhasilannya. Dengan demikian, teori penemuan menyatakan bahwa peluang adalah tujuan, individu adalah unik, dan pengusaha adalah penanggung risiko.

2. Teori Penciptaan:

Teori penciptaan berfokus pada pengusaha dan penciptaan perusahaan. Mirip dengan nexus individu / peluang, teori penciptaan juga mendekati tiga asumsi dalam kewirausahaan.

Tiga asumsi tersebut adalah sebagai berikut:

Sebuah. Peluang bersifat subyektif. Teori penciptaan juga menekankan bahwa peluang diciptakan melalui serangkaian keputusan untuk mengeksploitasi peluang potensial. Teori ini menegaskan bahwa peluang tidak memiliki eksistensi tanpa tindakan pengusaha. Teori penciptaan bertentangan dengan I / O nexus.

Model I / O menegaskan bahwa peluang ditemukan dengan memindai lingkungan bisnis dan menganalisis struktur pasar dan industri. Di sisi lain, teori penciptaan mendukung pandangan bahwa peluang diciptakan oleh pengujian hipotesis dan pembelajaran.

Misalnya, organisasi elektronik konsumen, seperti Samsung, menciptakan peluang dengan mengembangkan produk baru, mencoba produk-produk tersebut di pasar, mencari tahu produk yang cukup berhasil, dan menyaring produk yang sukses dan meningkatkan daya jualnya.

b. Peluang tidak diakui oleh individu, tetapi diciptakan oleh mereka. Teori penciptaan menunjukkan bahwa kewirausahaan tidak memerlukan perbedaan dalam individu, tetapi perbedaan dalam pengambilan keputusan di bawah ketidakpastian. Menurut teori penciptaan, seorang wirausahawan adalah seseorang, yang mengatur sumber daya setelah mengevaluasi nilai kemungkinan hasil.

c. Individu menanggung ketidakpastian bukan risiko. Teori penciptaan menunjukkan bahwa pengusaha menciptakan peluang dan bertindak atas mereka setelah memperkirakan probabilitas keberhasilan mereka. Dengan demikian, menanggung ketidakpastian bukan risiko.

Dengan demikian, teori kreatif menunjukkan bahwa peluang bersifat subyektif, individu adalah biasa, dan pengusaha adalah pembawa ketidakpastian.


Teori Kewirausahaan - 3 Teori Teratas Menurut Pengarang Terkemuka

Perilaku kewirausahaan cenderung muncul ketika masyarakat memiliki jumlah orang yang cukup yang memiliki fitur sosiologis, psikologis dan ekonomi tertentu. Perilaku wirausaha adalah perilaku mengambil tindakan inovasi yang melibatkan berbagai risiko dan menarik pengembalian yang baik.

Teori-teori pengembangan kewirausahaan dibagi menjadi tiga teori.

Deskripsi singkat masing-masing teori adalah sebagai berikut:

1. Teori Psikologis - Kewirausahaan adalah proses dan konsep psikologis. Menurut konsep ini, faktor psikologis adalah sumber utama pengembangan kewirausahaan. Ketika ada cukup banyak orang yang memiliki karakteristik psikologis yang sama di masyarakat, maka ada peluang cerah pengembangan kewirausahaan.

2. Teori Sosiologis - Kewirausahaan adalah konsep dan proses sosiologis. Menurut konsep ini, faktor sosiologis adalah sumber sekunder pengembangan kewirausahaan. Dengan demikian, faktor-faktor sosial seperti sikap sosial, nilai-nilai dan institusi secara signifikan mempengaruhi pasokan kewirausahaan dalam masyarakat.

3. Teori Ekonomi - Menurut teori ini, seorang pengusaha menjalankan semua kegiatan karena insentif ekonomi. Tujuan utama teori ini adalah motif laba.

Teori # 1. Teori Psikologis:

Kewirausahaan disebut sebagai konsep dan proses psikologis. Menurut teori ini, faktor psikologis adalah sumber utama pengembangan kewirausahaan. Beberapa penulis seperti Schumpeter, McClelland, Hagen dan John Kunkell telah menyatakan pendapat mereka tentang faktor psikologis yang mempengaruhi kewirausahaan.

Menurut teori ini, kewirausahaan penting untuk muncul ketika masyarakat memiliki cukup persediaan individu yang memiliki elemen psikologis tertentu.

Teori-teori psikologis utama adalah sebagai berikut:

(i) Teori Joseph A. Schumpeter

(ii) Teori David C. McClelland

(iii) Teori Everret E. Hagen

(iv) Teori John Kunkell.

Deskripsi singkat masing-masing teori adalah sebagai berikut:

(i) Teori Joseph Alois Schumpeter:

Menurut Joseph A. Schumpeter, fungsi wirausahawan yang efektif adalah memulai inovasi dalam usaha. Teori ini juga disebut teori inovasi atau teori dinamis. Menurut teori ini, para wirausahawan muncul karena individu-individu yang memiliki unsur-unsur psikologis tertentu, yakni kekuatan kehendak, intuisi diri, kapasitas toleransi. Pengusaha adalah orang yang memiliki sifat kreatif.

Dia menganggap kewirausahaan sebagai katalisator yang memeriksa kondisi statis ekonomi, di sana oleh para inisiat dan mendorong suatu proses pembangunan ekonomi yaitu, inovasi. Dia membawa ekonomi ke ketinggian baru pembangunan.

Inovasi ini meliputi:

1. Pengenalan barang baru,

2. Pengenalan metode produksi baru,

3. Pembukaan pasar baru,

4. Menemukan sumber bahan baku baru,

5. Melakukan sumber baru dari suatu organisasi.

Meskipun, teori ini juga termasuk karakteristik lain yaitu, pengambilan risiko, pengawasan dan koordinasi, ia menekankan bahwa atribut ini tanpa kemampuan untuk berinovasi tidak akan menjadikan individu sebagai wirausaha.

According to him, the following characteristics that appear in the behaviour of an entrepreneur are as follows:

1. An institutional capacity to see the things in a way which afterwards proves to be true.

2. Energy of will and mind to overcome static habits, desires and emotions.

3. The capacity to withstand social opposition.

According to him, an entrepreneur is an innovator who desires to earn profit through innovation. An entrepreneur is neither technical man nor a capitalist but simply an innovator. He introduces something new in the economy. He is motivated by establishing his psychological power. An entrepreneurship is formed for establishing his industrial empire. He has burning desires for creative activities.

He makes a distinction between innovator and inventor. An inventor discovers new methods and new material whereas an innovator is one who utilises or applies inventions and discovers to produce better quality goods that give greater satisfaction to customer and high profit to entrepreneurs. In this way, an entrepreneur is an innovator.

Schumpeter made it clear that an entrepreneur doesn't have a single person but equal to an organisation. “What matter is the behaviour not the actor?” He emphasised more on technological innovations rather than on organisational innovations. “Entrepreneurs are certainly not economic men in the theoretical sense.”

Critical Evaluation of JA Schumpeter Theory:

In this theory, the main theme is the innovation. He makes a distinction between an innovator and an inventor. According to him, an inventor discovers new methods and new materials. But an innovator is one who applies inventions and discovers in order to make new combination.

With the help of new combination, he produces newer and better goods which yields satisfaction as well as profits. Schumpeter's concept of entrepreneurship is quite broad based. It includes not only the independent businessmen but also executives and managers who actually undertake innovative functions.

(ii) David C. McClelland's Theory:

David C. McClelland has given a particular concept of entrepreneurship. According to him, needs for high achievement is an essential feature of entrepreneurial behaviour. According to McClelland, “Burning desire of need for achievement attracts an entrepreneur for activities.”

The primary basis of the development of an entrepreneurship is achievement orientation. The capacity of becoming an entrepreneur develops due to desire of reaching heights of excellence and specific performance.

For achieving heights of excellence and specific performances, an entrepreneur needs rational thinking, new combinations, deep thinking, power etc. The achievement motive is uncalculated through child rearing practices, which stress standards of excellences, material warmth, self-reliance training a low, further dominance. Individuals with high achievement motive tend to take keen interest in situation of high risk desire for responsibility and a desire for a Concrete measure of task performance.

His views can be expressed by means of the following points:

Sebuah. Ideological Values,

b. Family Socialisation,

c. Need for Achievement,

d. Entrepreneurial Behaviour.

The following elements which are focused by McClelland are as follows:

Sebuah. Achievement Orientation,

b. Height of Excellence,

c. Imagination Power,

d. New Combination.

According to McClelland, needs for high achievement drives individual towards entrepreneurial activities. High achievement need can be developed through child rearing and schooling practices. People with high achievement need are not motivated by monetary rewards only, such people regard profit as a measure of success whereas people with low achievement needs are motivated by monetary rewards.

People with a high need for achievement derive satisfaction from achieving goals. High achievers want immediate feedback on their power performances. He has been able to establish the desirability of high need for achievement for entrepreneurial success in the economic development of country.

A drive to influence others and situations. It refers to one's desire to influence and dominate other through use of authority. Goal's achievement is less important than the means by which goals are achieved. McClelland and his associates have found that people with high power needs have a great concern for exercising influence and control.

McClelland theory is not free from criticism:

1. There is strong evidence to indicate from politics and religion that adult behaviour can be moulded or drastically altered in a relatively short time.

2. The contention that needs are permanently acquired.

Inspite of the above discussion, this theory highlights the importance of matching the individual and the job. People with high achievement needs success on work ie, challenging, satisfying, stimulating and complexing. People with low achievement needs stability security and predictability.

Critical Evaluation of David McClelland's Theory:

The psychological roots of entrepreneurship reveal that high achievement orientation ensures the success of entrepreneurs. But the empirical tools of concept used by McClelland are found to be highly suspect.

Empirical investigation also need the following:

(1) It is necessary to create a climate to enable the children to grow and become individuals with high achievement.

(2) It is possible to improve the performance of existing entrepreneur through imparting proper training and education.

(iii) Everett E. Hagen's Theory :

Everett E. Hagen has also given a particular concept about an entrepreneurship. He has developed the theory of withdrawal of status. Hagen says, “Entrepreneurship is a function of status withdrawal.”

“Creativeness of disadvantaged minority group is the main source of entrepreneurship.” —Everett E. Hagen

Hagen considers “withdrawal of status respect as the trigger mechanism of change in personality formation” as entrepreneurship status withdrawal is the act of seeing on the part of some social group. The origin of this concept of psychological theory of entrepreneurship is based on Samurai community of Japan.

According to Hagen's concept status withdrawal as fall of status of social group is the primary cause of personality development. Hagen identifies the following four types of events that can produce status withdrawal and prestige fall.

(1) Displacement of valued symbols.

(2) Denigrations of status symbols with a changing distribution of economic power.

(3) Inconsistency of status symbols with a changing distribution of economic power.

(4) No acceptance of expected status on migration to a new society.

Hagen opined that creative innovation or change is the basic feature of economic growth. He describes an entrepreneur as a creative problem shooter interested in things in the practical and technological realm. Such type of individual feels a sense of increased pleasure when facing a problem and tolerates disorder without discomfort. In traditional societies, position of authority are granted on the basis of status, rather than individual ability. That is why he visualised an innovative personality.

There are 4 responses:

(1) One who combines to work in the society but remains indifferent to work and position is called Retreatist.

(2) One who adopts a kind of defensive behaviour and acts in the ways accepted and approved in his society but with hopes on of improving his position is called Ritualist.

(3) One who forms a rebellion and attempts to establish a new society is called Reformist.

(4) A creative individual who is likely to be an entrepreneur is called Innovator.

Innovation requires creative and such creative individuals cause economic growth. Whenever there is a withdrawal of status respect, it would give rise to birth of innovation of a creative individual who is likely to be an entrepreneur.

Critical Evaluation of E. Hagen's Theory:

This theory acts as distinction between entrepreneurship and intrapreneurship. There are different factors within the organisation which motivate the executives and professionals to do some innovative behaviour leading to new product and services.

Actually, they are not governed by status withdrawal. The theory only suggests that the people who had enjoyed social standing at some stage in their histories fall into a retreatist phase with an urge to regain the lost status and emerge as an entrepreneurship personality.

(iv) John H. Kunkel's Theory:

John H. Kunkel has also given a particular concept about entrepreneurship. He has presented a theory of entrepreneurial behaviour in connection to the development of entrepreneurship. Kunkel's theory is concerned with the expressed activities of individuals and their relations to the previous and present surroundings, social structures, physical conditions and behavioural patterns determined by reinforcing and opposing present in the context.

Hence, entrepreneurial behaviour is a function of surrounding and social structures, both past and present and can be readily influenced by the manipulative economic and social incentives.

Kunkel, “The supply and development of an entrepreneur depends upon the existence and extensiveness of four structure ie, limitation structure, demand structure, opportunity structure, and labour structure.”

He has given stress on the following four types of structure for the development of entrepreneurship:

1. Demand structure,

2. Opportunity structure,

3. Labour structure,

4. Limitation structure.

The description of each point is given as follows:

1. Demand Structure- The demand structure is of economic nature. This structure is changing day by day according to economic progress and government policies. The behaviour of individual can be made enterprising by affecting the main elements of demand structure.

2. Opportunity structure- The opportunity structure is formed by combination of supply of capital, managerial and technical skill production methods, labour and market, training opportunity establishment of an enterprise and conducting different activities.

3. Labour structure- The labour structure is directed by several factors such as source of livelihood, traditional outlook and life ambitions. The quality of labour influences the emergence and growth of entrepreneurship. Rather than capital intensive, labour intensive will serve our interest in a better manner. The problem of labour immobility can be solved by providing infrastructural facilities including efficient transportation wherever an entrepreneurship is promoted.

4. Limitation structure- We can say that the limitation structure is social and cultural. This structure affect the development of an entrepreneur.

Critical Evaluation of Kunkel Theory:

The theory assumes the ideal structures for the supply of entrepreneur. But generally there is discrepancy between objectives, structures and the actual incidence of entrepreneurs. It is due to the fact that there are inadequate or incorrect perception. In practice, entrepreneurship is also governed by the specific combination of circumstances which are generally not available in the environment.

At last but not the least, we conclude that all the authors ie, JA Schumpeter, David C. McClelland, Everett E. Hagen and John H. Kunkel have given their own opinion on concept of psychological theory of entrepreneurship. This theory presents the certain psychological motives that are responsible for the evolution of entrepreneurship.

Schumpeter's theory is one of the most important concepts of entrepreneurship which is richer and relevant. He has laid emphasis on innovativeness or creativity of an individual which makes him an entrepreneur.

McClelland theory has numerous practical implications. The person with high need achievement needs great concern for exercising influence and control.

Hagen's theory laid more stress on technological changes which is the result as individual's creativity. His concept depended upon withdrawal of status.

John H. Kunkel theory laid more stress on types of structure ie, demand, opportunity, labour and limitation. All the structure affects development of an entrepreneur.

The main point which is focussed on all the theories is on the individual and his personality inference by environment factors in general and internal values in particulars.

Theory # 2. Sociological Theory:

The supporters of sociological theory says that the entrepreneurial activities is affected from social status hierarchy and values. Individuals' position, tradition, cultural values, mobility and social status etc. are thoroughly effected to entrepreneurship development. The sociological theories depend on this concept.

The main sociological theories are as follows:

saya. Frank W. Young Theory

ii. BF Hoselitz Theory

aku aku aku. Max Weber Theory

iv. Cochran Theory

v. Stocke's Theory.

The description of each theory are as follows:

saya. Frank W. Young Model/Theory :

Frank W. Young is not the supporter of role of individual in entrepreneurship development. They think that only group entrepreneurs have the capacity of extension of entrepreneurial activities due to the character of capacity to react. He believes on the concept of changeable society.

A group comes in reactive status when the following circumstances happen at one attempt.

Sebuah. When group experiences minority situation in society.

b. When group do not make approach upto effective social machinery.

c. When group is having sound and more institutional resources rather than other groups.

Overall, when a group sees their lower positional conditions & experience, they grow an entrepreneurial tendency due to reactive capacity. According to this theory, set of supporting instructions are the primary determinant factors of entrepreneurship development.

ii. BF Hoselitz Theory:

According to Hoselitz, “The development of industrial entrepreneur is based on only which type of society are there.”

Sebuah. Social process is not static.

b. Sufficient employment pattern is available.

c. Encourage to entrepreneurs for personality development.

Hoeslitz says, “Culturally marginal groups plays an important role in encouraging the economic development of any nation.”

He think that the marginal persons are more able in making creative adjustment in changed situations and during the adjustment process they make efforts in bringing real innovations in social behaviour. In addition to this, he emphasised on development of personal qualities for entrepreneurial development.

According to Hoselitz, “Managerial skill and leadership qualities are important factors for entrepreneurship. Besides this, education, training, social values, behaviour and social behaviour/institutions play a crucial role in personality development.”

Highlighted Points :

saya. Entrepreneurship development is based on social progress and employment patterns.

ii. Personality development is an essential quality for entrepreneurship development.

aku aku aku. Culturally marginal groups are important characters for development process.

iv. Marginal groups are having the ability of innovation.

v. Managerial ability and leadership quality is must for entrepreneurship development.

aku aku aku. Max Weber Theory :

According to Weber, “A person who lives in which community, religion and follows the conventions and religious values.”

All these things completely affect by their professional life, energy, livelihood and enthusiasm.

In other words, Max Weber is connected with the emergence and success of entrepreneurs with social ethical values systems. He also associated the entrepreneurship development with protestants and other non-convents.

According to him, non-convents groups are those groups who gives pressure on capitalism, money rationality and thinking. They were almost successful in creating entrepreneurs, wealth collection, technology, capital formation and economic development.

“The modern economic development is explained to a greater extent, by the social factors as discussed in the foregoing lines. This becomes more prominently evident when we contrast the Indian culture with that of the western of particularly of the American culture. Even if we contrast the different sub cultures within the same larger society, the story of economic development is explained.”

Weber says that the religious beliefs and moral values are basically affected to people's attitude, view trust and thinking pattern and people's selected occupational pursuits as per earlier things.

Highlighted Points :

saya. Entrepreneurship development is based on Protestants.

ii. Selection of occupation pursuits is effected from religious and social values.

aku aku aku. Religious and moral values are effected to people's attitude, thinking power.

iv. Cochran Theory :

According to Cochran's, 'cultural values, role expectation and social acceptance plays prominent role in entrepreneurship development and entrepreneur is a model of personality.”

The success of an entrepreneur is basically affected from the following factors:

saya. The social attitude of the person towards his occupation.

ii. The role expectations of the sanctioning group.

aku aku aku. The operational requirements of the job.

Thus, the social attitude of the person and the role expectations are determined by the society's values as well as sanctioning groups that determine the success and failure of entrepreneurship. Overall entrepreneurship development is associated with social environment.

At last but not the least, we conclude that all the authors ie, Frank Young, BF Hoselitz, Max Weber, Cochran has given their own opinion on the concept of sociological theory. All the theories depend upon the social factors.

Frank Young's theory says about the concept of changeable society. Reactive status transforms the group into an entrepreneur.

BF Hoselitz has given the importance to social factor. Under this theory, the marginal persons are more able in making creative adjustment in changed situations.

Max Weber theory says that those persons who are related with religious, community etc., follow the rules and regulations of that community only.

Cochran theory says that the entrepreneur is the model personality of the society.

Theory # 3. Economic Theory of Entrepreneurship:

According to this theory, an entrepreneur executes all activities due to economic incentives. The supporters of this theory, profit motive is the prime driving force that change an individual into an entrepreneur. As such an entrepreneur emerges due to incentives and economic profit.

According to JR Harris and GF Papanek, “The inner drive of a man is associated with economic gains, which drive him into economic activities. Therefore, they regard economic gains as a pre-condition for the supply of entrepreneurs.”

Thus, the desire of increasing actual income and economic gains exist in any type of society. This tendency creates the spirit of economic development. They believe that the economic incentive is the basic condition of entrepreneurship.

According to Kirzner, “A typical entrepreneur is the arbitras, the person who discovers opportunities, the person who discovers opportunities at low prices and sells the same at high prices because of intertemporary and inter- partial demand.”

It means that an entrepreneur finds those situations in which he can earn profit by producing goods at low cost or purchasing goods at less prices and sell those goods at higher prices in market, he will take all possible steps and tend to act. No doubt, he is a seeker of profitable opportunities.

Overall this theory emphasises on economic gains and economic incentives which emerge the entrepreneurial class in a society.


Theories of Entrepreneurship – 4 Important Theories: Cultural Theories, Economic Theories, Psychological Theories and Sociological Theories

“He loves practice without theory is like the sailor who boards ship without a rudder and compass and never knows where he may case.” – Leonardo Da Vinci

There are four factors of production ie, land, labour, capital and organization. Organization is the coordinating factor that brings together the other three factors and entrepreneurship is the element that powers and strengthens the organization. Many of the economists believe that entrepreneurship is itself the fourth factors of production that is the most important in driving a successful economy.

Entrepreneurs are defined by their risk taking abilities and their intentions to fill in the void because of the existing lack of knowledge about a product. According to them, the entrepreneur ventures are carried out where there is a gap in the development of a product. The entrepreneurs work to fill the gap by introducing something that increases the effectiveness of the already existing product.

The field of entrepreneurship continues to struggle with the development of a modern theory of entrepreneurship. In the past 20 years development of the current theories of entrepreneurship have centered on either opportunity recognition or the individual entrepreneur.

At the same time many theoretical insights have come from economics, including a rediscovery of the work of Schumpeter. However because there is a lack of clarity about the theoretical assumptions that entrepreneurship scholars use in their work, assumptions from both individual opportunity recognition and economics, have been used as if they are interchangeable. This lack of theoretical distinction has hampered theory development in the field of entrepreneurship.

Throughout the theoretical history of entrepreneurship, scholars from multiple disciplines in the social sciences have grappled with a diverse set of interpretations and definitions to conceptualize this abstract idea. Entrepreneurship is an evolved thing. With the advancement of science and technology it has undergone metamorphosis change and emerged as a critical input for socio-economic development.

Various writers have developed variety theories on entrepreneurship and popularized the concept among the common people. The theories of entrepreneurship that are propounded by many eminent theorists have been grouped under four categories.

Mereka:

I. Cultural Theories:

1. Theory of Imitating – Hoselitz

2. Theory of Social Culture – Stokes

II Economic Theories:

1. Theory of Functional Behaviour – Casson

2. Theory of Economic Incentives – Papanek and Harris

3. Theory of Adjustment of Price – Kirzner

4. Theory of X-Efficiency-Leibenstein

5. Theory of Innovations-Schumpeter

6. Theory of Harvard School

7. Theory of High Achievement – McClelland

8. Theory of Profit-Knight

9. Theory of Market Equilibrium-Hayek

AKU AKU AKU. Psychological Theories:

1. Theory of Psychology-Kunkal

2. Theory of Personal Resourcefulness

IV. Sociological Theories:

1. Theory of Entrepreneurial Supply – Cochran

2. Theory of Religious Belief – Weber

3. Theory of Social Change – Hagen

I. Cultural Theories:

Cultural theories pointed out that entrepreneurship is the product of the culture. Entrepreneurial talents come from cultural values and cultural systems embedded into the cultural environment.

This theory supports two other theories ie:

1. Hoselitz theory and

2. Stokes theory.

1. Theory of Imitating:

According to Bert F. Hoselitz's theory, supply of entrepreneurship is governed by cultural factors and culturally minority groups are the spark-plugs of entrepreneurial and economic development. In many countries, entrepreneurs have emerged from a particular socio-economic class. Hoselitz reveals that in several countries entrepreneurial talents are found in persons having particular socio-economic background.

He emphasized the role of culturally marginally groups like Jews and the Greeks in medieval Europe, the Chinese in South Africa and Indians in East Africa in promoting economic developments. Further he has emphasized on the theory through examples of Christians contributes to entrepreneurship in Lebanon, Halai Memon industrialists in Pakistan and Marwaris in India.

2. Theory of Social Culture:

According to David Stoke's theory, entrepreneurship is likely to emerge under specific social sanctions, social culture and economic action. According to Stokes, personal and societal opportunities and the presence of requisite psychological distributions may be seen as conditions for an individual movement to get changed into industrial entrepreneurship.

II Economic Theories:

According to these theories, entrepreneurship and economic growth take place when the economic conditions are favourable. Economic development takes place when a country is real rational income increases overall period of time wherein the role of entrepreneurs is an integral part.

Economic incentives are the main motivators for entrepreneurial activities. Economic incentives include taxation policy, industrial policy, sources of finance and raw materials, infrastructure availability, investment and marketing opportunities, access to information about market conditions, technology etc.

1. Theory of Functional Behaviour:

According to Mark Christopher Casson theories, entrepreneurship can provide a synthetic theory of the business firm that provides an integrated framework for many partial theories of the firm. His theory deals with the functional behavior of entrepreneur and his qualities which are crucial for his success.

Drawing on an institutional approach to entrepreneurship, it is argued that economic insights can combine with managerial perspectives to clarify and synthesize many strategic issues of firms. Four dimensions of environmental shock lead to different forms of entrepreneurship that leads, in turn, to different sizes and structures for firms.

Entrepreneurs create firms that identify and monitor sources of volatility and channel information to key decision makers in the firm; entrepreneurial firms are located at nodes of information networks. The standard rational action model of neoclassical economics is generalized to an uncertain world of volatility and differential access to information, which generates differing perceptions of the business environment.

2. Theory of Economic Incentives:

According to GFPapanek and JRHarris Theory, economic incentives are the integral factors that have induced entrepreneurial initiatives. Main features of this theory are- (i) Economic incentives, (ii) Link between economic gains and the inner urge and (iii) Economic gain.

3. Theory of Adjustment of Price:

According to M. Kirzner, the chief role of entrepreneur is based upon the adjustment of price in the market. The buyer may pay higher price or seller may accept a lower price, which gives rise to opportunities for profit. Further if different prices prevail in the same market, there in an opportunity for profitable arbitrage between two segments.

4. Theory of X-Efficiency:

Harvey Leibenstein propounded the theory of X-efficiency which is popularly called Gap Filling Theory. According to Leibenstein, entrepreneurial functions are determined by the X-efficiency which means the degree of inefficiency on the use of resources within the firm.

It includes routine entrepreneur, new entrepreneurship, and twin roles of entrepreneur, gap filling, input completing and X-efficiency factor. An example of Leibenstein's Thoery is Lalu Prasad Yadav, who is an entrepreneur for Indian Railways. He had turned around the Indian Railways by improving efficiency and innovation.

5. Theory of Innovation:

This theory is developed by Joseph Schumpeter, who believes that entrepreneur helps the process of development in an economy. Schumpeter's theory of entrepreneurship is a pioneering work of economic development. Development in his sense implies that carrying out of new combinations of entrepreneurship is basically a creative activity. According to Schumpeter an entrepreneur is one who perceives the opportunities to innovate, ie, to carry out new combinations of enterprises. He says that an entrepreneur is one who is innovative, creative and has a foresight.

According to him, innovation occurs when the entrepreneur:

saya. Introduces a new product

ii. Introduces a new methods of production

aku aku aku. Opens new market

iv. Conquests of new source of supply of raw material

v. Carrying out new organization.

The theory emphasizes on innovation, ignoring the risk taking and organizing abilities of an entrepreneur. Schumpeter's entrepreneur is a large scale businessman, who is rarely found in developing countries, where entrepreneurs are small scale businessmen who need to imitate rather than innovate.

In view of the above, Schumpeterian theory of entrepreneurship has got the following features:

(i) Distinction between invention and innovation – Schumpeter makes a distinction between innovation and invention. Invention means creation of new things and innovation means application of new things onto practical use.

(ii) Emphasis on entrepreneurial function – Schumpeter has given emphasis on the role or entrepreneurial functions in economic development. In his views development means basic transformation of the economy that is brought about by entrepreneurial functions.

(iii) Presentation of disequilibrium situation through entrepreneurial activity – The entrepreneurial activity represents a disequilibrium situation, a dynamic phenomenon and a break from the routine or a circular flow towards equilibrium.

Evaluasi Kritis:

Schumpeter's theory of innovation is criticized on the following ground:

saya. The theory has the scope of entrepreneurism in the sense that it has included the individual businessman along with the directors and managers of the company.

ii. Schumpeter's innovating entrepreneurs represents the enterprise with the R&D and innovative character. But developing countries lack these characters.

aku aku aku. The theory emphasizes on innovation and excludes the risk taking and organizing aspects.

iv. Schumpeter's entrepreneurs are large scale businessman who introduces new technology, method of production.

v. Schumpeter remained silent about as to why some economists had more entrepreneurial talent than others.

However, despite the above criticisms, this theory is regarded as one of the best theories in the history of entrepreneurial development.

6. Theory of Harvard School:

Harvard school contemplated that entrepreneurship involves any deliberate activity that initiates, maintains and grows a profit-oriented enterprise for production or distribution of economic goods or services, which is inconsistent with internal and external forces. Internal forces refer to the internal qualities of the individual such as intelligence, skill, knowledge experience, intuition, exposure, etc.

These forces influence the entrepreneurial activities of an individual to a great extent. On the other hand external forces refer to the economic, political, social, cultural and legal factors which influence origin and growth of entrepreneurship in an economy.

This theory emphasizes on two types of entrepreneurial activities ie- (i) Entrepreneurial functions like organization and combination of resources for creating viable enterprises, and (ii) The responsiveness to the environmental condition that influences decision making function besides the above mentioned activities.

Harvard School also emphasizes on following points:

saya. To search and evaluate economic opportunities,

ii. To master the process of mobilizing resources to accomplish the goal,

aku aku aku. To interconnect the different market segments for creating an absolutely ideal marketing environment,

iv. To create or expand the firm or business enterprise,

7. Theory of High Achievement:

This theory is developed by David McClelland.

According to him entrepreneurship has been identified with two characteristics such as:

(i) Doing things in a new and better way, and

(ii) Decision making under uncertainty.

He stressed that people with high achievement oriented (need to succeed) were more likely to become entrepreneurs. Such people are not influenced by money or external incentives. They consider profit to be a measure of success and competence.

According to McClelland, a person has three types of needs at any given time, which are:

(i) Need for achievement (get success with one's one efforts)

(ii) Need for power (to dominate, influence others)

(iii) Need for affiliation (maintain friendly relations with others)

8. Theory of Profit:

This theory is developed by Knight, Frank H. He points out that entrepreneurs are specialized group of persons who bears risk and deals with uncertainty. Main features of this theory are pure profit, situation of uncertainty, risk bearing capability, guarantee of specified sum, identification of socio economic and psychological factors, use of consolidation techniques to reduce business risks.

9. Theory of Market Equilibrium:

According to Hayek, the absence of entrepreneurs in Neo-classical economics is intimately associated with the assumption of market equilibrium. The elasticity of bank credit causes a disparity between the natural and market rate of interest. According to this theory, the postulate presupposes the fact that there is no need for further information to modify the decision.

AKU AKU AKU. Psychological Theories:

Entrepreneurship gets a boost when society has sufficient supply of individuals with necessary psychological characteristics. The psychological characteristics include need for high achievement, a vision or foresight and ability to face opposition. These characteristics are formed during the individual's upbringing which stress on standards of excellence, self-reliance and low father dominance.

1. Theory of Psychology:

This theory is developed by John H. Kunkel. According to him psychological and sociological variables are the main determinants for the emergence of entrepreneurs. According to him, entrepreneurship can be dependent upon the following structures in the economy, ie- (i) Demand Structure (ii) Limitation Structure (iii) Labor Structure and (iv) Opportunity structure.

Beginning with the premise that fundamental problems of economic development are non-economic, he emphasizes on the cultural values, role expectation and social sanctions as the key elements that determine the supply of entrepreneurs. As a society's model personality, entrepreneur is neither a supernormal individual nor a deviant person but is a role model of the society representing model personality.

Model personality as a derivative of social conditioning, the role is partly shaped by the model personality that is a derivative of social conditioning of his generation. Further, innovation and invention go together with the type of conditioning in the society.

Role expectations and entrepreneurial role: Primary cultural factor operating on the personality of the executive and the defining of his role by those involved must accommodate to some degree to the necessities of the operation to be carried out.

2. Theory of Personal Resourcefulness:

According to this theory, the root of entrepreneurial process can be traced to the initiative taken by some individuals to go beyond the existing way of life. The emphasis is on initiative rather than reaction, although events in the environment may have provided the trigger for the person to express initiative. This aspect seems to have been subsumed within 'innovation' which has been studied more as the 'change' or 'newness' associated with the term rather 'pro-activeness'.

IV. Sociological Theory:

Entrepreneurship is likely to get a boost in a particular social culture. Society's values, religious beliefs, customs, taboos etc., influence the behaviour of individual's in a society. The entrepreneur is a role performer according to the role expectations by the society.

1. Theory of Entrepreneurial Supply:

Thomas Cochran emphasizes on the cultural values, role expectation and social sanctions as the key elements that determine the supply of entrepreneurs.

2. Theory of Religious Belief:

Max Weber has propounded the theory of religious belief. According to him, entrepreneurism is a function of religious beliefs and impact of religion shapes the entrepreneurial culture. He emphasized that entrepreneurial energies are exogenous supplied by means of religious beliefs.

The important elements of Weber's theory are described further:

saya. Spirit of capitalism – In the Webbrian theory, spirit of capitalism is highlighted. We all know that capitalism is an economic system in which economic freedom and private enterprise are glorified, so also the entrepreneurial culture.

ii. Adventurous spirit – Webber also made a distinction between spirit of capitalism and adventurous spirit. According to him, the former is influenced by the strict discipline whereas the latter is affected by free force of impulse. Entrepreneurship culture is influenced by both these factors.

aku aku aku. Protestant ethic – According to Max Webber the spirit of capitalism can be grown only when the mental attitude in the society is favourable to capitalism

iv. Inducement of profit – Webber introduced the new businessman into the picture of tranquil routine. The spirit of capitalism intertwined with the motive of profit resulting in creation of greater number of business enterprises.

3. Theory of Social Change:

This theory is developed by Everett E. Hagen. It explains how a traditional society becomes one in which continuing technical progress takes place. It exhorts certain elements which presume the entrepreneur's creativity as the key element of social transformation and economic growth. It reveals a general model of the society which considers interrelationship among physical environment, social culture, personality etc.

According to Hagen, most of the economic theories of underdevelopment are inadequate. Hagen insisted that the follower's syndrome on the part of the entrepreneur is discouraged. This is because the technology is an integral part of socio cultural-complex, and super-imposition of the same into different socio-cultural set-up may not deliver the goods.

The Kakinada Experiment:

Conducted by McClelland in America, Mexico and Mumbai. Under this experiment, young adults were selected and put through a three month training programme. The training aimed at inducing the achievement motivation.

The course contents were:

saya. Trainees were asked to control their thinking and talk to themselves, positively.

ii. They imagined themselves in need of challenges and success for which they had to set planned and achievable goals.

aku aku aku. They strived to get concrete and frequent feedback

iv. They tried to imitate their role models those who performed well.

Conclusions of the Experiment :

(i) Traditional beliefs do not inhibit an entrepreneur

(ii) Suitable training can provide necessary motivation to an entrepreneur.

(iii) The achievement motivation had a positive impact on the performance of the participants.

It was the Kakinada experiment that made people realize the importance of EDP, (Entrepreneurial Development Programme), to induce motivation and competence in young, prospective entrepreneurs.


 

Tinggalkan Komentar Anda